ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra Putrinya
18 September 2024 17:00
REZEKI TAK PERNAH SALAH PILIH
Program Rumah Syukur Layak Huni dari OPSHID adalah program pembangunan rumah gratis bagi masyarakat yang rumahnya belum layak huni. Dilaksanakan dalam rangka mensyukuri Hari Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya pada 28 Oktober mendatang. Salah satu syarat pembangunan Rumah Syukur ini, adalah tanah yang dibangunkan rumah harus atas nama penerima.
Nis memang memiliki tanah warisan. Maka untuk dibangunkan Rumah Syukur, Nis meminta tanah bagiannya kepada pamannya (adik dari ayah). Pamannya ternyata mempersilahkan Nis untuk mendirikan rumahnya di semua bagian tanah itu, tidak hanya bagian Nis saja. Tentu dengan jaminan, tanah itu akan dibeli semuanya supaya menjadi sepenuhnya atas nama Nis, dan dengan kelonggaran tidak harus dilunasi saat itu juga.
Perjanjian pun dibuat, hitam di atas putih. Rumah kosong tak berpenghuni milik paman yang berdiri di atas tanah itupun dibongkar oleh OPSHID. Namun, paman Nis esoknya tiba-tiba menggagalkan perjanjian.
Tanah yang awalnya bisa dibeli dengan diangsur tanpa batas waktu yang ditentukan, tiba-tiba harus dibeli saat itu juga dengan harga 30 juta rupiah. “Ada uang, ada bangunan”, begitu kata istri paman Nis, atau bibi Nis. Perubahan yang tiba-tiba itu awalnya membuat OPSHID sedikit terpontang-panting mencari dana yang bisa dipinjam untuk membeli tanah. Atas kesadaran para anggotanya, mereka berhasil mengumpulkan 30 juta dari iuran.
“Kata bapak-bapak OPSHID, ‘jangan khawatir mbak, nanti malam sudah siap uangnya’”, tutur Nis. OPSHID Lamongan siap untuk membeli tanah paman Nis, kontan.
Baru akan dibeli, ketentuan itu berubah lagi. Kali ini, yang mengubah ketentuannya adalah anak-anak dari paman Nis. Mereka meminta agar sisa 1 meter tanah milik bibi Nis itu dibeli juga, menjadi 35 juta.
Di tengah kebingungan karena ketentuan yang berubah-ubah, Carik (Sekretaris Desa) Parengan, pak Agus Prasetyo, menawarkan alternatif lain kepada Nis dan juga OPSHID. Beliau menawarkan bagaimana apabila rumah dibangun di tanah lain di sebelah selatan, yang kebetulan dijual. Harganya lebih murah, dengan area yang lebih luas.
Baik Nis maupun OPSHID sepakat untuk membangun Rumah Syukur Nis di tanah baru itu. Nis pun diminta memberi kabar pada pamannya bahwa perjanjian pembelian tanah paman telah batal.
“Saya bilang ke paman, ‘matur suwon lan sepurane pak lek, awak wes kadung ajur’”, tutur Nis.
Pembangunan rumah Nis di tanah yang baru itu, selain harus melewati jalan terjal untuk bisa berhasil, rupanya membawa kemujuran bagi OPSHID dalam hal lain. Yaitu menyangkut penerima Rumah Syukur yang lain, yaitu Ibu Darukmi.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang