Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra Putrinya

18 September 2024 17:00

Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra Putrinya


MANDIRI SEJAK KECIL

Ibu Nisfaiyah (43), atau akrab dipanggil Nis, sudah mandiri sejak kecil. Sejak kecil, ia berada di keluarga yang kurang mampu. Tinggal di Desa Parengan, Kec. Maduran, Kabupaten Lamongan yang merupakan sentra kain tenun khas Lamongan, Nis akhirnya belajar menenun sejak ia masih duduk di bangku SMA. 

“Saya nenun mulai SMA kelas 1. Saya SMA biaya sendiri”, tutur Nis. “Bapak saya itu kan orang ndak punya, sakit-sakitan. Saya disuruh putus sekolah SMP, tapi saya ndak mau. Saya pengen sekolah, jadi biaya sendiri. Buku, tas, sepatu dan seragam saya beli sendiri. Orang tua ndak usah mikir, biar saya pikir sendiri”.

Hingga kini Nis sudah memiliki 3 putra dan 2 putri, ia masih aktif menenun setiap harinya. Pada saat itu, Nis bisa menghasilkan 2 potong kain per hari bahkan lebih, dengan upah 14 ribu per potong. Namun setelah suaminya meninggal, ia hanya bisa menyelesaikan 1 potong kain per hari. Sekarang, upah yang didapatkannya dari sepotong kain hasil tenunannya berkisar antara 45 ribu hingga 55 ribu. 

IMG_5602.webp (1.97 MB)
Nis dan Asyif, anak ketiganya, di depan rumah mereka

Jumlah itu, bila dipikir menggunakan logika, tentu tak cukup untuk menghidupi 7 orang anggota keluarga. Apalagi di tahun 2020, tahun yang menurut Nis adalah masa-masa di mana ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Suaminya jatuh sakit, dirinya hamil anak kelima, dan keempat anaknya masih sekolah semua. Nis adalah harapan keluarga satu-satunya.

“Ya itu kalau namanya melarat, ya melarat tenan. Tapi ya ndak tahu, Gusti Alloh itu selalu ada saja jalannya”, kata Nis sambil menangis haru.

Pada tahun 2023, suaminya meninggal dunia. Tahun 2024, putri tertuanya Baqiyatus Sholihat menikah dan kini tinggal di Bekasi bersama suaminya. Anak kedua yang bernama Aris, mondok untuk pengabdian dan hanya sesekali pulang ke rumah. Tinggal Nis, anak ketiganya Asyif (9), keempat Rara (6), dan kelima Arif (4) yang hidup di rumah kecil itu.

IMG_5604.webp (1.41 MB)
Rara dan Arif, dengan riang menyantap jajanan di kamar sempit yang biasa ditiduri 4 - 5 anggota keluarga

Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa ia akan dibangunkan rumah. Gratis tis, mulai bangunan hingga isinya.

“Kalau perasaannya ya sueneng. Kesannya sampai ndak bisa ngomong. Seperti mau nangis juga tidak bisa saking senengnya”, Nis mengungkapkan rasa syukurnya.

Kejadian yang bagai rezeki nomplok itu, ternyata membawa ujian lagi baik bagi Nis, maupun bagi OPSHID (Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah) Lamongan, yang membangunkan rumah Nis.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida