ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
15 Mei 2026 07:00
DIVERSIFIKASI PANGAN DAN ANCAMAN KETERGANTUNGAN IMPOR
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan juga dijelaskan, diversifikasi pangan merupakan upaya meningkatkan ketersediaan pangan yang beragam dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang beragam, bergizi seimbang, dan aman, sekaligus mengembangkan usaha pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, diversifikasi pangan tidak hanya berarti mengganti nasi dengan bahan pangan lain, tetapi juga memperluas sumber pangan dan memanfaatkan pangan lokal secara optimal.
Namun, selama beberapa dekade sistem pangan Indonesia cenderung berfokus pada satu jenis pangan utama, yaitu beras. Selain itu, Indonesia yang masih bergantung pada impor beberapa komoditas strategis, seperti gandum, kedelai, gula, dan bawang putih menyebabkan Indonesia rentan terhadap gejolak global.
Dalam hal ini diversifikasi pangan memiliki peran yang sangat penting, baik dari gizi maupun ketahanan pangan nasional. FAO (Food and Agriculture Organization) menegaskan bahwa keragaman pangan merupakan salah satu pilar pola makan sehat. Kualitas pola makan yang baik diperlukan untuk mencegah berbagai bentuk malnutrisi serta mendukung kesehatan dan perkembangan manusia.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional juga menyebut diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sebagai salah satu pilar penting dalam pemenuhan pangan nasional.
Konflik internasional saat ini mengganggu distribusi pangan dan energi dunia, sehingga inflasi global meningkat, harga pangan dalam negeri juga ikut terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan memiliki kaitan yang sangat erat dengan geopolitik dunia.
UWI DAN PANGAN LOKAL YANG TERLUPAKAN
Beberapa tahun terakhir banyak komunitas mulai menanam kembali pangan lokal yang sempat ditinggalkan, seperti umbi-umbian, sorgum, sagu, dan lain-lain. Salah satu contohnya adalah gerakan OPSHID (Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah) yang mulai digaungkan sejak 2024, penanaman massal Uwi di beberapa daerah sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis pangan lokal.
Di antara berbagai pangan lokal Indonesia, uwi merupakan tanaman yang memiliki potensi besar, tetapi kini mulai terlupakan. Padahal, Uwi (Dioscorea spp.) telah lama dikenal sebagai sumber karbohidrat alternatif bagi masyarakat Indonesia.
Penelitian dari Fakultas Pertanian Universitas Tidar menyebutkan bahwa tanaman uwi yang dahulu memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan, kini mulai ditinggalkan akibat sebagian masyarakat menganggap mengkonsumsi ubi sebagai keterpaksaan. Selain itu, kurangnya informasi mengenai agronomi, fisiologi, morfologi, dan karakteristik genetik tanaman uwi juga menyebabkan tanaman ini semakin kurang dikenal.
Sementara itu Dosen Departemen Budidaya Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr.nat.techn. Rizky P Kirana, M.Sc., memaparkan urgensi revitalisasi uwi (Dioscorea spp.) sebagai komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Langkah ini diambil mengingat kondisi ketahanan pangan Indonesia yang dinilai masih rapuh akibat ketergantungan tinggi pada beras, yang mencakup sekitar 90% konsumsi karbohidrat nasional.
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi