ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiRefleksi Makna Keadilan Bagi Perempuan di Hari Ibu
22 Desember 2025 07:00 · 7 menit baca
PANDANGAN ISLAM TERHADAP PEREMPUAN
Ketika Rasulullah membawa risalah Islam, pengakuan atas hak-hak perempuan merupakan sebuah terobosan besar pada zamannya. Islam menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai sesama makhluk Tuhan yang memiliki martabat kemanusiaan yang setara. Keduanya sama-sama manusia yang dimuliakan, meskipun tidak selalu ditempatkan secara identik dalam seluruh aspek kehidupan.
Perempuan dan laki-laki memiliki nilai kemanusiaan yang sebanding serta hak-hak yang setara dalam prinsipnya. Islam memandang bahwa dunia tidak sepenuhnya sama bagi perempuan dan laki-laki. Esensi, watak, dan karakter alamiah keduanya tidak diciptakan untuk fungsi yang sepenuhnya identik. Karena itu, dalam beberapa hal, baik hak, kewajiban, maupun konsekuensi hukum, Islam menempatkan keduanya secara berbeda, bukan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan sebagai upaya menjaga keadilan yang proporsional.
Sebaliknya, dalam konteks dunia Barat modern, terdapat kecenderungan untuk mengejar keseragaman dan keidentikan mutlak antara perempuan dan laki-laki dalam hukum, regulasi, serta peran sosial, sering kali dengan mengabaikan perbedaan alamiah dan bawaan. Upaya memaksakan perempuan untuk mengikuti standar hidup laki-laki justru berisiko menafikan kebutuhan alami dan jati diri perempuan itu sendiri.
Kebebasan sejati bagi perempuan bukanlah tentang menjadi serupa dengan laki-laki, melainkan tentang kemampuan untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya tanpa kehilangan identitas dirinya. Kebebasan ini mencakup ruang untuk bertumbuh secara fisik, intelektual, dan spiritual sesuai dengan fitrahnya.
Sejarah menunjukkan bahwa sebelum abad ke-20 di Eropa, perempuan, baik secara hukum maupun praktik sosial, belum sepenuhnya diakui hak-haknya sebagai manusia. Mereka tidak memiliki hak yang sebanding dengan laki-laki, baik dalam bidang hukum, politik, maupun sosial. Baru dalam waktu relatif singkat, melalui berbagai gerakan yang mengatasnamakan perempuan dan untuk perempuan, hak-hak tersebut mulai diperoleh secara luas.
Jika mempertimbangkan aspek fisik, kebutuhan biologis, serta dimensi spiritual perempuan, hak-hak yang diperoleh secara formal tidak selalu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan kebahagiaan perempuan itu sendiri. Kesamaan hak secara mutlak belum tentu menghadirkan keadilan yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, apabila perempuan ingin memperoleh kebahagiaan dan pemenuhan hak yang sejati, jalannya bukanlah dengan meniru atau menyamakan diri sepenuhnya dengan laki-laki, melainkan dengan meyakini dan memperjuangkan hak-hak yang selaras dengan jati dirinya.
Umat manusia pada hakikatnya membutuhkan hak sekaligus etika. Keduanya merupakan standar moral yang menuntun kehidupan manusia. Dalam hal ini, Islam memiliki keunggulan karena tidak hanya menegaskan hak, tetapi juga menautkannya dengan etika dan tanggung jawab moral.
Keistimewaan perempuan dalam Islam terletak pada martabatnya, bukan persoalan superioritas atau inferioritas, melainkan tentang bagaimana Islam menghadirkan perspektif baru di tengah dunia yang sebelumnya kerap mendiskreditkan perempuan.
- Dukung Rumah Gratis OPSHID, 2 Batalyon Brimob Pekalongan Turun Membantu
- Syukuri Sumpah Pemuda, Para Pemuda Ini Bangun 59 Unit Rumah Gratis
- Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf
- Tambah Satu Unit, Yatim Piatu di Ngawi Terima Rumah Gratis dari OPSHID
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- OPSHID Sidoarjo Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Boro
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!