Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Apabila Tak Ada Sumpah Pemuda, Jangan Bermimpi Bisa Merdeka

28 Oktober 2025 12:00

Apabila Tak Ada Sumpah Pemuda, Jangan Bermimpi Bisa Merdeka

LAHIRNYA SUMPAH PEMUDA

Sumpah Pemuda lahir di tengah riuhnya geopolitik dunia, ketika itu dunia baru saja pulih dari Perang Dunia I. Pada masa itu, ketidakpuasan terhadap sistem kolonial dan kapitalis kian meluas, yang melahirkan keresahan global. Di Italia dan Jerman muncul fasisme, di Uni Soviet dan Tiongkok tumbuh komunisme, sementara liberalisme Barat berusaha bertahan. Dunia sedang gelisah, bangsa-bangsa di berbagai penjuru mulai mencari sistem pemerintahan dan sosial yang mereka anggap paling ideal.

Fenomena global ini berdampak mendalam pada pergerakan pemuda di Indonesia. Pendidikan Barat yang terbatas, dan mulanya bertujuan mencetak tenaga administrasi murah, justru menjadi bumerang bagi pemerintah Hindia Belanda. Para pemuda ini tidak hanya menyerap ilmu pengetahuan tetapi juga ide-ide radikal tentang nasionalisme, demokrasi, dan hak asasi. Mereka melihat bagaimana bangsa-bangsa di dunia berjuang menentukan nasibnya sendiri.

Di Indonesia, gelombang perubahan ini membangkitkan kesadaran bahwa kemerdekaan hanya mungkin tercapai melalui persatuan. Rakyat yang telah lama terbelenggu oleh penjajahan mulai bangkit, karena mereka sadar bahwa bangsa Indonesia harus merdeka dan berdaulat.

Revolusi nasional bangsa Indonesia pada periode ini ditandai dengan transformasi pergerakan dari basis kedaerahan atau kesukuan menjadi gerakan yang berorientasi pada persatuan nasional. Organisasi-organisasi yang bergerak untuk persatuan nasional, antara lain:

  1. Partai Nasional Indonesia
  2. Kongres perempuan Indonesia
  3. Muhammadiyyah dan NU
  4. Sarekat Islam, dan masih banyak lainnya.

Kongres Pemuda II merupakan momentum historis yang menandai fase baru dalam perjuangan nasional Indonesia, sekaligus menegaskan lahirnya identitas kebangsaan. Melalui Sumpah Pemuda, terbentuk legitimasi psikologis dan ideologis bahwa bangsa Indonesia memiliki tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Ikrar tersebut bukan hanya simbol, melainkan konstruksi kesadaran baru yang menghapus rasa inferioritas sebagai bangsa terjajah.

Dengan demikian, Sumpah Pemuda menjadi landasan fundamental bagi terbentuknya solidaritas nasional dan memperkuat orientasi perjuangan menuju kemerdekaan yang utuh. Tidak ada lagi pergerakan berbasis suku. Yang ada hanyalah satu, sebagai bangsa Indonesia.

Semua peristiwa pada masa ini, pergerakan politik, budaya, pendidikan, dan bahasa, menjadi batu pijakan menuju proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tanpa fase ini, tidak akan ada persatuan yang cukup kuat untuk memerdekakan diri dari sistem pemerintahan kolonial.

Karena Sumpah Pemuda adalah landasan sosiologis dan ideologi yang menjadikan Revolusi Indonesia menjadi gerakan nasional yang tak terbendung, berbeda dengan perlawanan lokal di masa lalu.

Maka peristiwa Sumpah Pemuda ini layaklah kita katakan sebagai kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Kebangkitan nasional yang memiliki dampak nyata, langkah besar yang mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Sebuah embrio kemerdekaan yang lahir dari keinginan luhur untuk bangkit, melawan segala bentuk tindak opresif yang membelenggu, dan membentuk negara sendiri. Tanpa Sumpah Pemuda, tak ada merdeka.

Kita harus menyadari bahwa telah banyak perjuangan dan pengorbanan yang dicurahkan untuk mencapai kemerdekaan bangsa hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka sebagai generasi penikmat kemerdekaan, kita harus mensyukuri dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat untuk bangsa dan negara. (OPSHID Media)

 

————————

 

Referensi:

  1. Pitutur luhur Syech Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi
  2. Museum Sumpah Pemuda. 2008. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya Bagi Pergerakan Nasional. Cetakan ke-3. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.