Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

10 Juli 2025 07:00

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

OTTOMAN SEBAGAI SIMBOL PERSATUAN

Sementara perang saudara dan pertikaian agama melanda Bizantium, Ottoman perlahan-lahan mendekati kekaisaran tersebut. Mereka menyeberang ke Eropa dan mencaplok sebagian besar wilayah di sekitar Konstantinopel. Pada tahun 1400 M, Kekaisaran Bizantium tidak lebih dari sekadar negara-kota Konstantinopel. Jelas bahwa satu-satunya cara untuk memukul mundur Ottoman yaitu dengan menerima bantuan dari seluruh Eropa jika mereka berdamai dengan Gereja Katolik.

Namun rencana Kekaisaran Bizantium tidak dapat diterima oleh sebagian besar orang Konstantinopel sendiri. Hingga muncullah sebuah pepatah popular, yaitu "Lebih baik serban Turki daripada tiara Paus." Dengan kata lain, orang-orang Bizantium Ortodoks menganggap lebih baik diperintah oleh orang-orang Turki Muslim daripada menentang kepercayaan agama mereka dan menyerah kepada orang-orang Katolik. Orang-orang Turki Muslim telah dianggap sebagai pelindung bagi masyarakat Bizantium karena menggunakan pendekatan sosial kemanusiaan. Dimana keberadaan Ottoman ditengah masyarakat telah mengobati luka akibat perang salip keempat. 

29 Mei 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman Turki yang dipimpin oleh Sultan Mehmed Al Tsani, dikenal juga dengan sebutan Al Fatich “Sang Penakluk”. Sultan Mehmed Al Tsani ini dikenal sebagai orator ulung yang sangat memahami sisi psikologis. Ia mampu menarik loyalitas rakyat jajahannya, dalam kepemimpinnya ia mampu mendidik rakyat diwilayah taklukannya untuk dijadikan pasukan-pasukan elit Sultan. Mehmed Al Tsani paham betul bagaimana kondisi sosial masyarakat dan karakteristik musuh yang dihadapinya secara baik. Pasukan elit Sultan yang merupakan tawanan perang ini dididik dengan baik hingga mampu memunculkan rasa nasionalis dan kepercayaan diri mereka.

Di tahun yang sama dengan penaklukan Konstantinopel, Sultan Al Fatich memerintahkan bangunan Hagia Shopia diubah menjadi Masjid. Sultan Mehmed Al Tsani adalah penguasa Utsmani yang ke tujuh, saat penaklukan Konstantinopel beliau masih berusia 21 tahun.

Sebagai bentuk penghormatan pada warga multi-agama di Konstantinopel, Sultan Al Fatich berpesan untuk tidak menghancurkan detail interior Hagia Shopia yang telah ada sebelumnya.

Diubahnya fungsi bangunan dari katerdral ke masjid ditandai dengan penambahan minaret atau menara islam di luar gedung serta kaligrafi ayat Al Qur-an dan asma' Alloh Ta'ala, Nabi Muchammad serta 4 sahabat nabi di dalam gedung. Bangunan Masjid juga diperluas, yang meliputi musholla, perpustakaan hingga madrasah yang dikelola di bawah kesultanan Ustmani.

Kekhalifahan Utsmaniyyah di bawah pimpinan Sultan Al Fatich kemudian mengganti nama wilayah Konstantinopel menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium dan Rumania di tanah Turki untuk selamanya. Dan untuk mensyukuri peristiwa monumental ini, Sultan Mehmed II menghadiri salat jumat pertama di Masjid Hagia Shopia.

 

 

Bersumber :

Pitutur Luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Word History

Lumenlearing

Pinter Politik

Mosaics of Hagia Sophia, Istanbul: The Fossati Restoration and the Work of the Byzantine Institute Natalia (1940) oleh B. Teteriatniko.

Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel (2021) oleh John Frely

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.