Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Opini & Esai

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

· 11 menit baca

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

POLITIK KEKUASAAN BIZANTIUM

Konstantinopel, adalah kota yang didirikan Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada 11 Mei 330 masehi, merupakan salah satu kota termasyur di dunia kala itu. Di dunia Kristen, kota ini menjadi yang terdepan dalam segi kebudayaan dan kesejahteraan. Konstatinopel berdiri di wilayah yang sekarang disebut sebagai kota Istanbul.

Hagia Sophia sendiri mulai dibangun tahun 532 hingga 537 masehi sebagai Katedral Ortodoks pada masa kekaisaran Kaisar Justinian I. Pembangunan Katedral ini di bawah naungan kekaisaran Bizantium, yang dikenal juga sebagai Kekaisaran Romawi Timur. Kaisar Justinian I memerintahkan pembangunan katedral besar di Konstantinopel. Sehingga para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah di Mediterania untuk membangun katedral kolosal termegah ini. Bangunan ini merupakan katedral terbesar di  dunia selama ratusan tahun lamanya.

Setelah pembangunan katedral rampung, kota ini menjadi tempat kedudukan pimpinan gereja Ortodoks. Berbagai upacara kenegaraan kekaisaran Bizantium dilakukan di sini. Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun.

Namun pada Perang Salib di sekitar abad 13, bangunan ini diubah fungsinya menjadi Katedral Katolik Roma oleh Pasukan Salib keempat di bawah kekuasaan Kekaisaran Rumania. Segala kegiatan kenegaraan sempat dilarang, tepatnya pada tahun 1204 sampai 1261 masehi.

Perang Salib keempat ini diserukan oleh Paus Innocent III pada 1198-1216 masehi, bekerja sama dengan Venesia. Awalnya merupakan perintah untuk merebut kembali Yerusalem dari penguasa Muslim, namun karena banyaknya kegagalan, kendala keuangan, dan ambisi dari Venesia, target penaklukan akhirnya bergeser ke Konstatinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium yang merupakan kota Kristen terbesar di dunia.

Venesia setuju untuk mengangkut 33.500 tentara salib, jumlah yang sangat ambisius. Perjanjian ini membutuhkan persiapan selama setahun penuh dari pihak Venesia untuk membangun banyak kapal dan melatih pelaut yang akan mengoperasikannya, sekaligus membatasi kegiatan komersial kota. Tentara salib keempat ini terdiri dari 4.500 ksatria beserta 4.500 kuda, 9.000 pengawal dan 20.000 prajurit infantri.

Mayoritas tentara salib yang berangkat dari Venesia pada bulan Oktober 1202 berasal dari daerah-daerah di Prancis. Beberapa daerah lain di Eropa juga mengirim kontingen besar, seperti Flanders dan Montferrat. Kelompok-kelompok penting lainnya datang dari Kekaisaran Romawi Suci, termasuk orang-orang di bawah Uskup Martin dari Pairisand dan Conrad dari Halberstadt, yang juga beraliansi dengan tentara dan pelaut Venesia yang dipimpin oleh Doge Venesia Enrico Dandolo. 

 

MASA KELAM KONSTANTINOPEL

Pada 12 April 1204 masehi, Penjarahan Konstantinopel oleh Pasukan Salib dilangsungkan. Konstantinopel dilucuti dari segi kekayaannya, relik, karya seni bahkan pelececahan pada bangunan dan simbol yang disucikan. Hasil dari penjarahan yang dilakukan dibagi menjadi dua antara Pasukan Perang Salib empat dan Venesia beserta sekutunya.

Perang Salib keempat dengan demikian mendapatkan reputasinya yang terkenal sebagai perang salib yang paling sadis dan materialis dari semua Perang Salib. Karena adanya ambisi kekuasaan, penaklukan ini menjadi bola api yang tak kunjung selesai antara Bizantium dan golongan barat.

Setelah Perang Salib keempat, Kekaisaran Bizantium terpecah menjadi negara-negara penerus Yunani, yaitu Nicaea, Epirus, dan Trebizond, dengan banyak wilayah milik Frank dan Latin yang menduduki sisanya, yang secara nominal tunduk pada kaisar Latin di Konstantinopel. Meskipun Epirus awalnya merupakan yang terkuat dari ketiga negara Yunani, bangsa Nicaea-lah yang berhasil merebut kembali kota Konstantinopel dari Kekaisaran Latin.

Pada tahun 1261 M, pasukan Michael berhasil merebut Konstantinopel sementara para kesatria Latin pergi berperang ke tempat lain. Mereka mendapati Konstantinopel hanya tinggal puing-puing dari masa lalu, berpenduduk jarang dan sebagian besar gedung-gedung hancur. Namun, Michael VIII tetap kembali dan diproklamasikan sebagai kaisar di sana, yang menandai pemulihan Kekaisaran Bizantium.

Sebagai upaya melindungi kekaisarannya dari serangan lebih lanjut oleh para kesatria Barat, ia berusaha mengakhiri perpecahan antara gereja Katolik dan Ortodoks. Namun ternyata, hal ini membuat marah banyak warganya, yang menyalahkan umat Katolik atas penjarahan Konstantinopel. Kekaisaran yang dilanda perang sekaligus perpecahan di kalangan rakyat, membuat Bizantium tidak siap menghadapi musuh-musuh yang kini mengepungnya.

Di sisi lain proyek konstruksi besar-besaran dilakukan untuk memperbaiki kerusakan akibat Perang Salib keempat, tetapi tidak satu pun dari inisiatif-inisiatif ini yang memberikan kenyamanan bagi para petani di Asia Kecil. Akibatnya, Anatolia yang telah menjadi jantung kekaisaran menyusut secara sistematis hilang ke tangan banyak ghazi Turki, yang serangannya berkembang menjadi ekspedisi penaklukan yang diilhami oleh semangat Islam.

Terhadap semua musuh ini, Bizantium hanya bisa menoleh ke barat untuk mencari bantuan. Akan tetapi, Paus terus menekankan bahwa bantuan hanya akan datang jika Bizantium mengadopsi ajaran Katolik dari gereja Latin. Kaisar Bizantium bersedia melakukannya untuk menyelamatkan kekaisaran, namun rakyat membenci umat Katolik karena penjarahan Konstantinopel. Sehingga upaya untuk berdamai dengan Gereja Katolik hanya berujung pada kerusuhan. Perselisihan teologis lebih lanjut mengobarkan permusuhan antara Ortodoks dan Katolik. 

Tulisan ini merupakan opini/esai penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.