Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Opini & Esai

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

· 11 menit baca

Kembalinya Status Hagia Shofia Sebagai Masjid Dan Tanda Kebangkitan Tashawwuf Dunia

Masyarakat Islamis dan Pan-Turki telah lama mengkampanyekan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid. Mereka beranggapan perubahan status ini dapat menyelamatkan Turki dari penghinaan di masa lampau, karena pemimpin Turki dahulu, Kemal Atatürk telah menjual jiwa dan negaranya kepada modernitas barat. Ungkapan paling jelas dari pandangan ini disampaikan oleh Necip Fazil Kisakürek, penyair, penulis, ideolog islam paling termuka. Pada 29 Desember 1965 M / 6 Sy. Romadlon 1385 H, Kisakürek mengatakan keputusan Mustafa kemal Atatürk untuk mengubah Hagia Shopia menjadi museum adalah untuk "menempatkan semangat penting Turki di dalam museum", ia menilai Kabinet Pemerintah Atatürk telah menyakiti negara Turki sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Turki Recap Toyyip Erdogan ternyata sempat mendapat kecaman dunia karena menganggap apa yang dilakukan telah melanggar aturan UNESCO. Bangunan Hagia Shopia ditetapkan sebagai salah satu situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985.

UNESCO menganggap apa yang dilakukan Presiden Erdogan adalah sebuah tindakan egois karena akan dapat memunculkan sentimen nasionalis dan agama yang fanatik. “Penting untuk menghindari tindakan pelaksanaan apa pun, tanpa diskusi terlebih dahulu dengan UNESCO, yang akan memengaruhi akses fisik ke situs tersebut, struktur bangunan, properti bergerak di situs tersebut, atau pengelolaan situs tersebut," tegas Ernesto Ottone, Asisten Direktur Jenderal UNESCO untuk Kebudayaan. Tindakan tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap aturan yang berasal dari Konvensi Warisan Dunia 1972.

Namun tampaknya Erdogan mengabaikan peringatan dunia internasional untuk tidak mengubah status monumen berusia hampir 1500 tahun tersebut. Dalam kutipan pidato nasional yang dimuat Reuters, Erdogan justru mempertegas langkahnya dengan mengatakan "Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Fatih, penakluk Istanbul. Perubahan status menjadi masjid ini merupakan isu kedaulatan dalam negeri. Seperti semua masjid kami, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua, penduduk lokal dan asing, Muslim dan non-Muslim."

Bangunan Hagia Shopia merupakan bangunan universal yang mampu menggabungkan gaya keindahan arsitektur Eropa dan Asia selama ratusan tahun. Penggabungan mahakarya arsitektur ini merupakan bagian dari sejarah kekayaan masa lalu. Keindahan yang ada dalam bangunannya dapat menunjukkan keterampilan arsiteknya baik pada era Bizantium, Rumania maupun Istanbul.

Hagia Shopia tentulah bukan bangunan sembarangan bagi rakyat Turki, karena ia merupakan simbol Nasiolisme dan juga Religius sebuah Bangsa. Pengubahan status menjadi Masjid ini juga diartikan sebagai simbol kemenangan sekaligus gelombang kerinduan masyarakat Turki akan sejarah kejayaan Islam Ottoman yang telah lama dirampas.

Menurut keterangan Dipo Alam, Ph.D., Sekretaris Jendral D-8 Organization for Economic Cooperation (2007-2010) menyebutkan dalam komentarnya yang tertulis “Secara simbolik, perubahan Hagia Sophia dari masjid menjadi museum adalah simbol perceraian bangsa Turki dengan sejarah Ottoman, sekaligus mewakili keterdominasian Turki oleh sekularisme Barat. Kini, pemulihan kembali Masjid Agung Hagia Sophia berarti sebaliknya. Melalui pemulihan fungsi masjid itu kini Turki telah terhubung kembali dengan masa lalunya, berdiri tegak di atas karpet sejarah yang telah mewariskan kebesaran dan kebanggaan untuk mereka.”

Dan sebagai tanda perubahan Hagia Shopia menjadi masjid, pada Jumat Legi, 24 Juli 2020 M / 3 Dzulhijjah 1441 H dilaksanakan sholat jumat pertama oleh masyakat. Sholat jumat di Hagia Shopia pertama ini juga mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh Sultan Al Fatich ketika mampu menaklukan Konstantinopel. 

Tulisan ini merupakan opini/esai penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.