Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Mempertahankan Jati Diri Bangsa dan Kedaulatan Ekonomi dari Faham Pengancam Pancasila

27 Februari 2025 07:00

Mempertahankan Jati Diri Bangsa dan Kedaulatan Ekonomi dari Faham Pengancam Pancasila

Jurnal ini adalah jurnal ke - 3 dari seri jurnal Komunis:

Komunis: Hantu Masa Lalu, Masihkah Menjadi Ancaman?

Peran Sjarikat Islam dalam Perlawanan Terhadap Kolonialisme

Kita adalah bangsa Indonesia yang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Bangsa yang telah melewati ribuan rintangan ratusan tahun lamanya, bertahan dengan semangat, pedoman, prinsip, nilai-nilai luhur yang tak pernah padam selamanya.

Sampailah pada 18 Agustus 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan, bersamaan pula dengan Pancasila yang menjadi dasarnya. Namun, setelah bangsa Indonesia merdeka, serangan masih tak kunjung berhenti, bahkan sampai saat ini.

Indonesia, fikiran kita, ideologi kita masih diserang, disusupi, digerogoti, dikikis oleh mereka yang mau menciptakan dunia sesuai dengan ideologi mereka. Salah satunya ialah faham komunis, khususnya faham komunis yang disebarkan di Indonesia, ini bukan komunis china maupun soviet, meski hakekatnya semua komunis itu sama saja.

MENGAPA IDEOLOGI PANCASILA MENGANCAM MEREKA?

Seperti yang kita ketahui, Pancasila merupakan dasar Negara Republik Indonesia yang menjadi pedoman dan prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diikuti lambang Negara Indonesia 'Burung Garuda' yang bermakna jiwa kuat, menengok ke arah kanan berarti kebaikan, seraya membawa kain putih suci dengan slogan pedoman 'Bhinneka Tunggal Ika'. Jadi lambang negara kita berarti jiwa kuat yang mengejar kebaikan, juga membawa pedoman suci untuk bersatu dalam kebaikan. Adapun tengah dadanya terdapat tameng, di dalamnya ada pancasila, yang berarti nilai-nilai ideologi pancasila merupakan benteng bagi Indonesia untuk memperjuangkan kebaikannya.

Tidak hanya sebagai pedoman dan prinsip, Pancasila juga menjadi jalan fikir dan dasar falsafah hidup Bangsa Indonesia, yang mana tak lepas dari sejarah perjuangan, pergerakan, dan semangat mempertahankan kemerdekaan serta jati diri Indonesia. Nilai-nilai tersebut merupakan satu kepribadian Bangsa Indonesia, yang akan terus mengembangkan Indonesia mengikuti pertumbuhan nilainya.

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus mengetahui esensi dari Pancasila, nilai-nilai yang menjadi asas kehidupan bangsa dan menjadi sumber daripada tingkah laku dan perikehidupan Bangsa Indonesia. Begitupula kita harus mengerti apa yang dapat menjadi ancaman bagi ideologi Pancasila kita.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebagaimana tertera dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa bangsa Indonesia mengakui “Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa” sebelum menyebutkan “didorongkan oleh keinginan luhur”. Yang berarti bangsa Indonesia memiliki keyakinan terhadap pertolongan Tuhan di atas usahanya sendiri dalam menghasilkan kemerdekaan. Nilai kehidupan yang taat terhadap petunjuk-petunjuk dan hukum, berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, dapat menunjukkan sikap prinsip berbangsa dan bernegara yang terpatri dalam NKRI, serta menimbulkan semangat berjuang tanpa pamrih dan rendah hati.

Sedangkan faham komunis berdiri dengan meniadakan kekuasaan dan keesaan Tuhan, tidak bisa berjalan tanpa menghapuskan unsur ketuhanan. Sebab komunisme berpijak pada materialisme, yang menyatakan bahwa realitas sepenuhnya terdiri dari materi dan bahwa perubahan sosial terjadi melalui perjuangan kelas, bukan melalui ‘campur tangan’ Tuhan.

Faham seperti itu secara halus dimasukkan ke dalam konsep “kesetaraan”, sedikit demi sedikit mengurangi rasa syukur manusia, sampai mempertanyakan keadilan kepada Tuhan, meskipun pastinya Tuhan Maha Adil. Padahal jelas sila ke-1 ini menegaskan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia tak dapat lepas dari keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, apapun agama maupun keyakinannya.

Maka dari itu, faham seperti atheis dan komunis menjadi faham yang mengancam ideologi Pancasila, sebab bertentangan dengan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Nuraida