Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya

27 Oktober 2024 07:00

Hidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya

Setelah meninggalkan Makassar, Wage kerap berpindah-pindah antara lain ke Bandung, Surabaya, Batavia. Kehidupannya berubah drastis, dari yang serba berkecukupan jadi harus serba mencukup-cukupkan. Selain sebagai musisi, ia juga punya keahlian menulis. Ia bekerja sebagai wartawan di harian Sin Po, dan pernah juga di Kaoem Moeda. Tak banyak penghasilan yang ia dapatkan dari menjadi jurnalis. Lagu-lagu yang ia ciptakan pun, hanya terjual dengan nilai 20 hingga 30 sen. Tapi keterbatasan itu tak menghentikannya untuk terus berada di jalan perjuangan.

Wage memang bukan aktivis yang berisik. Ia bukan orator ataupun tokoh yang bermain politik. Ia berjuang dengan apa yang ia miliki—biola dan penanya. Melalui tulisan-tulisannya yang ia terbitkan di media, Wage makin gencar di jalur perjuangan. Melalui profesinya sebagai wartawan, Wage juga banyak bertemu tokoh-tokoh pergerakan seperti M. Tabrani, dan mulai terlibat di Kongres Pemuda.

Bermula dari adanya sayembara pembuatan lagu kebangsaan yang diadakan oleh Tabrani, Wage mulai menggubah lagu yang menjadi cikal bakal Indonesia Raya. Selanjutnya, seperti yang kita ketahui, lagu Indonesia Raya pertama dimainkan pada Kongres Pemuda II atau peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, kemudian menyebar secara masif. Adalah harian Sin Po, media cetak pertama yang memuat syair lagu Indonesia Raya, yang diterbitkan 10 November 1928.

Lagu Indonesia Raya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong bagi kaum kolonial. Di luar perkiraan mereka, sebuah lagu mampu menumbuhkan bibit-bibit perlawanan terhadap penjajahan. Lagu Indonesia Raya juga mampu menyatukan tiap-tiap golongan rakyat dalam satu tujuan: pergerakan kemerdekaan. Perkenalan Indonesia Raya kepada publik yang bersamaan dengan peristiwa Sumpah Pemuda juga memainkan peran besar dalam kebangkitan semangat kemerdekaan yang bersifat nasional ini.

Tak lama setelahnya, pemerintah Belanda mencanangkan pelarangan terhadap lagu Indonesia Raya. Lagu tersebut dilarang edar di manapun, dan Wage Rudolf Soepratman diburu oleh pemerintah Belanda.

Ironis, bukan? Di masa sekarang yang mana kita mengenal Wage sebagai pahlawan nasional, sesungguhnya ia dulu dianggap sebagai buronan. Bahkan dengan terus berusaha melepaskan diri dari kejaran Belanda, Wage masih punya nyali untuk membuat kaum kolonial kebakaran jenggot. Ia merilis roman Perawan Desa, sebuah roman yang ia tulis sendiri, berkisah tentang seorang perempuan dari desa yang diperalat oleh Belanda. Meski bacaan roman Perawan Desa terhitung singkat, tetapi Wage dapat menuangkan pemikirannya terhadap kejamnya kolonialisme Belanda, dan keadaan sosio-politik Hindia Belanda sebelum mendapatkan kemerdekaannya. Roman ini pun, dibredel dan dilarang edar oleh pemerintah Belanda. Dua roman Wage yang lain, Darah Moeda dan Kaoem Fanatik tak pernah diterbitkan.

Buronan Wage akhirnya tertangkap pada tahun 1938 di Surabaya dan mendekam di penjara Kalisosok selama 10 hari. Di penjara, kondisi kesehatannya kian memburuk dan tak membaik meski setelah keluar penjara. Tak lama setelahnya, Wage menghirup nafas terakhir di rumah saudaranya di Surabaya dengan meninggalkan surat wasiat. Unikya, yang umumnya surat wasiat seseorang ditujukan pada keluarga atau ahli waris seseorang, surat wasiat Wage justru ditujukan pada Indonesia. 

Ini menunjukkan bahwa hidup mati Wage ia persembahkan untuk Indonesianya tercinta. Semua karya-karyanya adalah untuk bangsa Indonesia. Tanpa pamrih, tanpa ingin dikenal maupun ingin imbalan. Di akhir hayatnya, dalam wasiatnya, hanya ada harapan dan do’anya untuk Indonesia. Indonesia, adalah ahli waris Wage.

 

7 Wasiat Wage Rudolf Soepratman

Selamat tinggal tanah airku, tanah tumpah darahku

Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi

Selamat tinggal bangsaku, marilah kita berseru

Indonesia bersatu, bangsa dan tanah airku

Marilah kita berdo’a, Indonesia bahagia

Marilah kita berjanji, Indonesia abadi

Hiduplah Indonesia Raya, selamat tinggal untuk slama-lamanya

Penulis:

Editor: Nuraida