ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiHidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya
27 Oktober 2024 07:00
3 STANZA
Wage Soepratman wafat tanpa melihat Bangsa yang dicintainya merdeka dari jajahan Belanda. Tepat 7 tahun setelah wafatnya Wage pada 17 Agustus 1938, barulah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Usai proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno - Hatta di Jln. Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta Pusat, lagu Indonesia Raya diputar dengan 1 stanza. Indonesia Raya setelahnya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1958, Bab 1 pasal 1: Lagu Kebangsaan Republik Indonesia, selanjutnya disebut "Lagu Kebangsaan", ialah lagu Indonesia Raya.
Namun yang umum dikumandangkan hingga saat ini adalah Indonesia Raya dengan 1 stanza. Bahkan, tak banyak yang tau stanza ke 2 dan 3 dari Indonesia Raya. Padahal selain stanza ke 1, stanza ke 2 dan 3 mengandung syair-syair yang berisikan tentang do’a dan harapan yang mulia untuk Indonesia. Apabila ini diteruskan, bisa-bisa stanza ke 2 dan 3 lagu Indonesia Raya lenyap karena tidak dilestarikan.
Meski begitu, sudah mulai banyak bermunculan golongan-golongan yang senantiasa melestarikan Indonesia 3 stanza. Salah satunya adalah lembaga pendidikan formal di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat atau disingkat THGB. Setiap hari sebelum memulai pelajaran, siswa siswi THGB terlebih dahulu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza.
Tak hanya di lembaga pendidikan THGB saja, semua warga Shiddiqiyyah menerapkan 3 stanza pada setiap rangkaian acara menyanyikan lagu kebangsaan. Shiddiqiyyah memang Pesantren yang sangat mencintai Wage. Cinta itu diwujudkan dengan melestarikan ajaran cinta tanah air yang diwariskan oleh Wage dalam lagu Indonesia Raya, hingga membuat film biopik tentang beliau yang berjudul “Wage”. Film ini dirilis pada November 2017. Dan meskipun tidak menarik banyak penonton, selama 7 tahun film Wage tetap dibawa untuk ditonton dalam nobar-nobar independen atas dasar cinta kepada Wage.
Di samping itu, OPSHID dan juga Shiddiqiyyah punya sejuta cara lain untuk mentasyakkuri peristiwa Sumpah Pemuda dan lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tiap bulan Oktober. Tahun ini saja, OPSHID membangun 83 unit rumah gratis untuk rakyat Indonesia yang belum memiliki rumah layak huni. Program ini sudah dilaksanakan oleh OPSHID sejak tahun 2010. Bagi OPSHID, inilah cara membuktikan rasa syukur pada Alloh atas peristiwa Sumpah Pemuda dan juga atas terciptanya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Semoga akan selalu ada generasi pemuda pemudi yang mewarisi semangat cinta tanah air Wage Soepratman. Walaupun Wage selalu berada di tempat yang jauh dari sorotan, rasa cinta tanah airnya yang tertuang dalam lagu Indonesia Raya dapat lestari sepanjang zaman. (OPSHID Media)
- Syukuri Sumpah Pemuda, Para Pemuda Ini Bangun 59 Unit Rumah Gratis
- Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf
- Tambah Satu Unit, Yatim Piatu di Ngawi Terima Rumah Gratis dari OPSHID
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- OPSHID Sidoarjo Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Boro
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!
- Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda