Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya

27 Oktober 2024 07:00

Hidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya

Sejak dimainkan pertama kali pada 28 Oktober 1928, total sudah berapa kali lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar atau dinyanyikan hingga sekarang? Bisa jadi puluhan juta, bahkan ratusan juta kali. Di setiap acara-acara kenegaraan, dinas, acara resmi, hingga di universitas-universitas dan sekolah-sekolah, selalu ada rangkaian acara menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Meski begitu, bisa dipastikan dari ratusan juta rakyat Indonesia, hanya sedikit yang mengetahui pencipta lagu Indonesia Raya. Adalah Wage Soepratman, publik lebih mengenal dengan nama WR Soepratman atau Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Wage adalah seorang jurnalis, komponis/musisi, dan penulis roman. Profil singkatnya, Wage lahir senin, 9 Maret 1903, yang kini ditetapkan sebagai hari Musik Nasional. Beberapa versi lainnya menyebut beliau lahir kamis, 19 Maret 1903. Tempat lahirnya di Somongari Purworejo, namun ada versi lainnya juga yang menyebut beliau lahir di tangsi militer Meester Cornelis, Jatinegara, Jakarta Pusat. Tempat, tanggal lahir beliau masih simpang siur dan belum mendapat kepastian. Pada tulisan ini, kami tak akan memperdebatkan mengenai tempat tanggal lahirnya dan akan lebih fokus pada pembahasan mengenai lika liku Wage dalam melahirkan lagu Indonesia Raya.

Mungkin saja, bukan hal yang aneh apabila Wage tidak banyak dikenal. Karena selama hidupnya, dia memang hidup dalam kejaran dan persembunyian. Dan Wage sendiri pun, tak menuntut supaya dirinya menjadi terkenal. Namun lagu Indonesia Raya, menyebar bagaikan api di padang rumput yang kekeringan kendati Belanda melarang edar lagu Indonesia Raya.

 

MENINGGALKAN HIDUP YANG BERGELIMANG HARTA

Orang tua Wage meninggal ketika Wage masih kecil. Ia lalu ‘diadopsi’ oleh kakaknya yang bernama Roekijem Soepratijah, dan diboyong ke Makassar. Di Makassar, Wage tinggal bersama Roekijem dan suami Roekijem, Sastromiharjo/Willem Van Eldik. Sastromiharjo adalah blasteran keturunan Jawa - Belanda. Nama Willem Van Eldik ditambahkan agar ia bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah yang saat itu mayoritas Belanda. Taktik penyematan nama yang ‘berbau’ Belanda itu juga digunakan pada Wage. Wage Soepratman diubah menjadi Wage Rudolf Soepratman, supaya Wage bisa sekolah.

Wage belajar musik dari Van Eldik. Ketika Wage sudah remaja, ia bergabung dalam band jazz besutannya dan Van Eldik, Black and White. Band tersebut sukses besar dan populer di kalangan masyarakat kelas atas di Makassar, dan Wage bisa menghasilkan banyak uang dari hanya sekali main bersama Black and White di cafe yang dihadiri oleh kaum borjuis—orang-orang Belanda.

IMG_5841.webp (117 KB)
Wage (nomor 3 dari kiri) ketika berusia 17 tahun mendirikan dan memimpin jazz band "Black and White" di Makassar. Paling kiri Willem van Eldik (Sastromihardjo) adalah kakak iparnya. Foto dan keterangan diambil dari website civitasbook.com, bersumber dari makam WR Soepratman.

Siapa yang bisa membayangkan seperti apa hidup Wage ketika berada di Makassar? Hidupnya seakan sudah sukses. Ia memiliki harta melimpah dan ketenaran. Ia masih muda dan tampan, tak menutup kemungkinan ia populer di kalangan wanita. Semua yang diinginkan oleh anak muda, ada padanya.

Tapi di balik itu semua, ada lubang besar di hatinya. Semua yang ia miliki serasa tidak ada artinya apabila bangsa Indonesia masih dalam keadaan terjajah. Apalagi, rasa berdosanya yang kian menumpuk karena ia mendapat kekayaan dari hasil menghibur kaum kelas atas Belanda.

Pada akhirnya, Wage membuat sebuah keputusan besar. Apabila umumnya anak muda akan terlena dalam gemerlapnya kehidupan bergelimang harta, Wage tidak mati pikir, rasa dan hatinya. Ia tinggalkan semua kehidupannya yang mewah di Makassar itu, dan seterusnya ia dedikasikan hidup matinya untuk bisa mengangkat rakyatnya dari penderitaan. Wage merantau ke pulau Jawa.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida