ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Santri: Melawan Stigma Negatif di Kalangan Masyarakat Modern
22 Oktober 2024 07:00

Di masyarakat, khususnya yang beragama Islam, santri berperan sebagai pendakwah. Melalui kegiatan seperti pengajian maupun ceramah, santri meningkatkan pemahaman masyarakat awam terhadap agama Islam.
Di sisi lain, santri juga memiliki peran dalam menjaga kebudayaan lokal, seperti menjadi teladan baik dalam tata krama perilaku, etika, moral, yang mana hal tersebut juga berpengaruh positif pada kehidupan masyarakat sekitar sehari-hari.
Faktanya, santri memiliki kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara aktif, bisa dilihat dari kerapnya keterlibatan santri dalam kegiatan seperti bakti sosial, penanganan bencana, program pemberdayaan masyarakat, program rumah syukur, dan lainnya.
Pun dalam suatu konflik, santri seringkali dijadikan sebagai mediator atau penengah. Dengan pengetahuan agamanya, bertujuan untuk menghasilkan jalan tengah, perdamaian, kepercayaan.
HAKIKAT SANTRI
Memang banyak sekali pendapat tentang asal kata dan arti kata santri. Namun, jelas yang paling utama adalah makna dan pengamalan dari pemaknaan itu sendiri.
Dalam buku tjita-tjita perjuangan halaman 126 oleh Abu Hanifah, disebutkan bahwa di agama Islam memiliki benteng yang bernama thoriqoh, pesantren, dan langgar (musholla, tempat belajar—red).
“Dari dulu benteng-benteng agama Islam diperdapat dalam golongan-golongan tarikah-tarikah, biar namanja Naksibandijah, Kadarijah, Satarijah, atau lain-lain. Dan pesantren-pesantren serta langgar-langgar jang dikepalai oleh alim-ulama jang tinggi-ilmunja dalam keagamaan mendjadi pertahanan agama Islam terhadap bandjir fikiran barat dan fikiran modern jang anti-agama.”
Kita belajar mendalami ilmu Agama tak lepas dari peran seorang guru. Seorang guru berwawasan luas tentang Al Qur-an dan Hadits, yang membimbing murid-muridnya melalui penafsiran akan pedoman tersebut. Itulah thoriqoh, metode, jalan seorang muslim dalam melaksanakan perintah Alloh dan Rosululloh.
Sebagaimana tertulis dalam berita OPSHID Media Sampai ke Negeri Jiran, Buah Da’wah Kader Shiddiqiyyah Bil Hikmah, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi memberikan pitutur luhur tentang hakikat santri:
"Jadi SANTRI hakekatnya itu manusia yang melaksanakan tiga 'I': satu Iman, dua Islam, tiga Ichsan". Lebih jelas lagi disampaikan, “Hakekat SANTRI itu bukan pakaian, bukan kopyah, bukan kain panjang, hakekat SANTRI itu yaitu Insan yang melengkapi I tiga: Iman, Islam, Ichsan.”
Maka pengamalan dari makna santri bagi murid-murid Shiddiqiyyah adalah dengan melengkapi tiga I tersebut. Yaitu dalam melaksanakan sesuatu seharusnya tak lepas dari rukun Iman, rukun Islam, dan rukun Ichsan sebagai pokok ajaran agama Islam. Tak lepas pula dari arti kata santrinya, yaitu Insan tiga yang meliputi kesanggupan dalam bakti kepada Alloh, sesama manusia, dan alam. (OPSHID Media)
Sumber referensi:
Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi.
Api Sejarah jilid 1 oleh Ahmad Mansur Suryanegara.
Tjita-tjita Perjuangan oleh Abu Hanifah.
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin