ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Santri: Melawan Stigma Negatif di Kalangan Masyarakat Modern
22 Oktober 2024 07:00
Pesantren kerap mendapat stigma negatif sebagi tempat di mana murid-muridnya hanya dicekoki ilmu agama dan mengabaikan pengetahuan modern ataupun keterampilan-keterampilan aplikatif. Padahal hakikatnya, pesantren adalah tempat di mana santri-santrinya belajar segala macam ilmu yang bisa berguna di dunia dan kehidupan sehari-hari, tanpa melenceng dari koridor keagamaannya sebagai muslim.
Terdapat contoh pesantren yaitu Baitul Kilmah di Bantul, Yogyakarta. Didirikan oleh KH. Dr. Aguk Irawan, Lc., M.A. bersama Ibu Nyai Dr. Rohinah, S.Pd.I., M.A., pada tahun 2009. Dikutip dari artikel Samudra Fakta berjudul Jihad Literasi Pesantren Kreatif Baitul Kilmah (1): Membangun Kecerdasan dan Kemandirian Melalui Jalur “Antimainstream”:
"Materi-materi yang diajarkan bersifat kombinatif. Materi-materi keagamaan, berupa kitab kuning, tidak ditinggalkan—sebagai ciri khas pendidikan Islam pondok pesantren. Namun, materi-materi umum seperti jurnalistik, filsafat, metodologi riset, praktik kepenulisan jauh lebih dominan."
Selain itu di lembaga pendidikan yang berada di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah yaitu Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB) dan Al Isti'dadu lil Maqooshidil Qur-an (IMQ), para santri mempelajari banyak mata pelajaran. Di IMQ, selain wawasan kethoriqotan, santri belajar ilmu hukum, jurnalistik, kewirausahaan, ilmu komunikasi, dan lain sebagainya. Selengkapnya dapat dibaca di sini: Santri Lulusan THGB Dididik Dari Berbagai Aspek Untuk Terjun ke Masyarakat Luas
Ilmu-ilmu yang dipelajari oleh para santri di Pesantren dapat diterapkan dalam berkehidupan dan bermasyarakat, dengan senantiasa terjaga dan terbentengi dari pengaruh-pengaruh buruk keduniawian. Maka selain mempelajari ilmu agama, santri juga mempelajari ilmu kehidupan. Seperti kebangsaan, sejarah, pengetahuan alam, sosial, bahasa, keterampilan seni, teknologi, kedokteran dan banyak lainnya. Hal ini diharapkan supaya santri menjadi pribadi yang seimbang dan dapat mengikuti perkembangan zaman.
Tidak hanya menjadi pelajar dan pemimpin di lingkungan umat Islam, santri juga “sudah seharusnya” berkontribusi secara aktif selaku bagian dari masyarakat, sebagai pengaplikasian dari pendalaman ilmu agamanya.
Dalam buku Api Sejarah jilid 1, halaman 285, tentang “Islam Sebagai Simbol Pembangkit Nasionalisme” oleh Ahmad Mansur Suryanegara. Disebutkan bahwa penjajahan mendorong pemikiran rakyat Indonesia bahwa Islam diperlukan dalam perihal kebangsaan atau nasionalis.
“Kondisi penjajahan dan pendindasan tersebut telah melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme.” Pernyataan oleh Soewardi Soerjaningrat dalam Het Javaansche nationalisme in de Indische Beweging. Disini pula santri seharusnya mengambil peran.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak