ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Ajaran Syukur dan Cinta Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia (Bagian 2)
07 Februari 2024 09:00

Membahas mengenai tiga titik, jika dijabarkan lebih luas lagi memiliki banyak makna yang tersirat.
- Pelayan keimanan / melaksanakan hubungan kepada Alloh Ta’ala
Mengadakan pengajian merupakan hal yang lumrah bagi pesantren-pesatren, sama halnya di Shiddiqiyyah yang rutin menggelar pengajian di setiap acara besar maupun haul para leluhur. Di dalam berbagai pengajian itulah Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menyampaikan berlian ilmu kepada Warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, tak jarang juga menyampaikan amalan-amalan yang semuanya itu untuk mendekatkan diri kepada Alloh.
Selain rutin mengadakan pengajian, Warga Thoriqoh Shiddiaiyyah juga rutin mengadakan agenda Do’a bersama baik di pusat ataupun di daerah-daerah.
- Pelayan kemanusiaan / melaksanakan hubungan kepada sesama manusia
Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW: “WAMAN LAM YASKURINNAS LAM YASKURILLAH”
Bersabda Rosululloh saw: “Dan barang siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manunusia (kemanusiaan), berarti tidak bersyukur kepada Alloh”.
Hadits ini sangat tegas dan jelas bahwa tanpa bersyukur kepada sesama manusia, maka bersyukur kepada Alloh seperti “jauh panggang dari api, arang habis besi tak jadi” atau dengan kata lain janganlah kita bicara soal syukur kepada Alloh (keimanan) jika kita tidak pandai bersyukur kepada sesama manusia.
Di Shiddiqiyyah juga diajarkan untuk selalu bersyukur kepada sesama manusia, bukan hanya kepada manusia yang hidup di zaman sekarang tetapi juga kepada manusia yang hidup di masa lampau hingga yang akan datang.
Salah satu cara Shiddiqiyyah mengamalkan hadits ini ialah dengan mengadakan Haul untuk mensyukuri dan menghormati manusia-manusia yang hidup di zaman dulu, mengadakan acara Tasyakurang Hari Kemerdekan Indonesia bahkan monumen-monumen yang menjadi ikon di Pesantren Maj’maal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah merupakan salah satu bentuk mensyukuri perjuangan para pahlawan yang telah berjuang di masa lampau.
Tiga yang menjadi ciri khas Toriqoh Shiddiqiyyah yaitu Shilahturohmi, Santun dan Shodaqoh atau S3, juga merupakan wujud mensyukuri manusia yang hidup di zaman sekarang. Shiddiqiyyah sering mengadakan hampir di setiap acara yang diselenggarakan, bahkan pada beberapa kesempatan mengadakan santunan kepada anak yatim piatu, janda hingga tukang becak.
Terakhir yang merupakan wujud syukur Thoriqoh Shiddiqiyyah kepada manusia yang akan datang atau generasi penerus ialah dengan cara mendidik generasi penerus kita dengan ajaran-ajaran kebaikan.
- Pelayan kealaman / melaksanakan hubungan kepada alam semesta
Sebagai manusia yang tinggal di muka bumi ini, harus menyadari bahwa alam ini adalah titipan dan bukan milik kita. Maka kita harus menjaga dan merawat bumi yang indah nan kaya ini.
Salah satu bentuk pelayanan kelaman Shiddiqiyyah adalah dengan pelajaran AL BIRRU. AL BIRRU adalah singkatan dari Asri, Lestari, Bersih, Indah, Rapi, Rajin, Utama, yang mana merupakan pelajaran mencintai alam dengan kegiatan bersih-bersih, menyapu, membuang sampah pada tempatnya, dan lain lain. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin oleh santri dan santriwati Pondok Pesantren Shiddiqiyyah.
Selain itu, terdapat juga program penanaman pohon mangga, penangkaran kupu-kupu, penangkaran ikan dan ayam, dan lain lain.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan