ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiAjaran Syukur dan Cinta Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia (Bagian 2)
· 6 menit baca · Diperbarui
Artikel ini adalah bagian 2 dari 3 seri eksklusif Hari Shiddiqiyyah 1445 H. Baca bagian 1 disini, dan nantikan bagian 3 segera.
------
Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia yang dipimpin oleh Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi, Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa, merupakan Thoriqoh berfaham Tashawuf. Pada bagian 1, sudah dijelaskan bagaimana sejarah terbentuknya Thoriqoh Shiddiqiyyah dan bagaimana Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi membangkitkan kembali nama Thoriqoh Shidiqiyyah.
Dalam metode pengaplikasian ajaran Tashawufnya, Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi mendirikan Pesantren Maj’maal Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah di pusatnya Thoriqoh Shiddiqiyyah di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur sebagai wadah bagi murid-murid Shiddiqiyyah untuk menerima berlian ilmu.
Selain itu beliau juga mendirikan sebuah pesantren yang khusus membahas mengenai Jati Diri Bangsa yang dinamai Pesantren Jati Diri Bangsa Merajut Nusantara yang direncanakan akan dibangun di seluruh Indonesia.
Di sisi pendidikan, dalam rangka mendidik generasi yang Abdan Syakuro, Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi mendirikan Yayasan Pendidikan Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat (THGB) yang memiliki arti pendidikan penjagaan anak laki-laki dan perempuan, guna mendidik anak-anak mulai dari usia dini hingga dewasa, dengan mengutamakan pendidikan Akhlaqul Karimah dan Cinta Tanah Air.
Selain itu Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah juga mendirikan lembaga pendidikan yang diberi nama Bustan Tsamrotul Qolbis Salim (BTQ), yang memiliki arti taman pendidikan buah hati yang selamat. Berkonsep mendidik generasi yang 'melek' cinta tanah air sejak usia dini. Dalam waktu singkat lembaga pendidikan BTQ sudah tersebar luas di berbagai daerah.
Banyaknya berlian ilmu serta pelajaran yang disampaikan oleh Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi melalui Thoriqoh Shiddiqiyyah ini, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengantarkan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menjadi hamba yang bersyukur.
Beliau menjelaskan, “kalimat syukur itu terdiri dari tiga huruf yaitu syin, kaf dan ro’ bunyinya syakaro, kalau tiga titik syinnya dihilangkan maka bunyinya menjadi sakaro. Maknanya telah mendem, teler, tidak sadar”.
Untuk itu Shiddiqiyyah berpendapat rahasianya syukur ada di tiga titik di atasnya huruf syin tersebut.
- Titik pertama adalah unsur ilmu, artinya mengetahui. Mengetahui sumber ni’mat, mengetahui siapa yang memberi ini’mat, mengetahui wujudnya ini’mat, mengetahui untuk apa ini’mat itu diberikan.
- Titik kedua adalah unsur hal artinya gembira, gembira karena diberi keni’matan, gembira karena diberi tahuwujudnya ni’mat, gembira karena tahu untuk apa tujuannya ini’mat itu diberikan.
- Titik ketiga adalah unsur amal, ini’mat ini diamalkan, diwujudkan direalisasikan dalam kehidupan sehari hari. Jadi meliputi ucapan, meliputi hati, amal dan meliputi segala perbuatan.
Menunggalnya tiga titik inilah yang dinamakan syukur, kurang dari satu saja bukan dinamakan syukur.
Di Shiddiqiyyah sendiri pengamalan syukur bisa dilihat melalui penggunaan kalimat “mensyukuri” atau “tasyakuran” yang selalu dipakai ditiap-tiap acara yang diadakan oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah baik yang ada di pusat maupun yang ada di daerah.
- Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ Mengabdi Belasan Tahun
- Syekh Mukhtar Mu’thi: Hati dan Amal, 2 Hal Utama Penilaian Alloh
- Minim Biaya, OPSHID Madura Tetap Bangun Rumah Gratis
- Jelang Hari Pahlawan, PCTA Indonesia Bangun Rumah Gratis Untuk Janda di Tuban
- Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati
- Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah
- Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis