ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hari Santri dan Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Bangsa
22 Oktober 2023 09:00
Pada tanggal 22 Oktober 2015, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan ini didasarkan pada momen besar timbulnya Fatwa Jihad Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah seluruh Indonesia yang dipimpin oleh Hadrotush Syekh Hasyim Asy’ari. Para Ulama’ berkumpul pada tanggal 22 Oktober 1945, di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya, sebagai tanda mempertahankan Kemerdekaan. Fatwa yang dapat meledekkan ismul ‘adhom : Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Merdeka!! sebagai bentuk jawaban atas ancaman penjajah, yang mengancam akan melumatkan Indonesia dari udara, laut, dan darat.
Munculnya Fatwa Jihad juga tidak bisa dipisahkan dari keresahan Jendral Sudirman akan adanya penyerangan-penyerangan lanjutan yang dilakukan sekutu akibat tak terima dengan Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Baik Jendral Sudirman, Bung Tomo maupun yang lain merasa perlu adanya restu para Ulama’ guna untuk mengusir sisa-sisa penjajahan.
SEJARAH MUNCULNYA FATWA JIHAD
Peristiwa bermula pada pertengahan bulan September pasukan Britania yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) datang ke Jakarta dengan membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan sipil Hindia Belanda sebagai negeri jajahan kolonial Belanda yang disebut Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Kedatangan pasukan sekutu/Australia dipimpin oleh Letjen Sir Philip Christison yang merupakan komandan militer Britania Raya selama Perang Dunia II.
Hingga pada bulan September di Surabaya, orang-orang Belanda mulai melancarkan tindakan provokatif yang sifatnya mengejek perjuangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 18 September 1945 sejumlah orang Belanda dari Mastiff Carbolic Party (MCP) dibawah pimpinan Letnan Antonissen diterjukan dari udara dan mendarat di Hotel Yamato. Mereka dengan gegabah mengibarkan bendera Belanda yang terletak diatap gedung.
Melihat berkibarnya bendera Belanda itu, rakyat menjadi marah dan serentak menyerbu Hotel Yamato dengan menerobos penjagaan ketat pasukan Kementai dan langsung memanjat tangga menuju lantai atas. Bendera Belanda diturunkan dan kain warna biru dirobek sehingga yang kemudian berkibar Sang Saka Merah Putih, lambang kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Insiden bendera di Surabaya itu telah membakar api semangat yang berkobar-kobar di dada arek-arek Suroboyo melawan setiap usaha asing untuk datang datang menjajah kembali. Perlawan rakyatpun tak kunjung henti diseluruh kepulauan Indonesia, pertempuran itu terjadi akibat sekutu yang tak terima dengan kemerdekaan Indonesia.
Sejak awal Oktober pasukan NICA dibawah komando Brigadier Jenderal Aulbertin Walter Sother (AWS) Mallaby langsung masuk ke Surabaya dan mendirikan pos pertahanan.
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha