Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Selamatkan Bangsa Indonesia Dari Dosa Politik, Shiddiqiyyah ‘Ngeruwat’ Negara

19 Agustus 2025 12:00

Selamatkan Bangsa Indonesia Dari Dosa Politik, Shiddiqiyyah ‘Ngeruwat’ Negara

Ruwatan Negara ini merupakan fakta bicara dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai wujud eksistensi bangsa Indonesia yang beragam namun tetap satu tujuan. 

IMG_20250819_114454_408.webp (271 KB)

Ruwatan yang menjadi bentuk penyucian atau pembersihan ini ditujukan pada hal-hal yang merusak tatanan dunia. Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea 1, "Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan". Maka apa yang harus dibersihkan?

"Bukan menghapus manusia, karena manusia adalah berlian alam semesta. Tanpa manusia, alam kehilangan fungsi. Hanya manusia yang bisa memanfatkan alam. Yang harus dibersihkan adalah sifat kotor, najis mugholladhoh, rakus, tamak, takabbur, mencaplok hak-hak orang lain. Sifatnya yang harus dihapus di dunia, karena yang mengorat aritkan tatanan agung ini adalah sifat penjajahan", pitutur luhur Sang Guru. 

Menurut Kushartono selaku perwakilan panitia pelaksana menyampaikan bahwa tujuan ruwatan ini menanggulangi berbagai ancaman bagi Indonesia—baik dari kondisi global, karena posisi strategisnya di persimpangan dunia yang membuat perang di sekitarnya berpotensi berbahaya, maupun dari ancaman internal seperti kedzoliman yang diterima rakyat akibat penyalahgunaan kekuasaan, termasuk korupsi yang akarnya dari sifat keserakahan.

Ruwatan ini mengangkat tema “Menyongsong Indonesia Mercusuar Perdamaian Dunia”, selaras dengan salah satu tujuan negara yang tercantum dalam alinea ke-4, yaitu ikut menertibkan dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ruwatan Negara digelar pada 18 Agustus karena tanggal tersebut menandai lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehari setelah 17 Agustus 1945, hari proklamasi kemerdekaan. Sebagaimana pesan Sang Guru, “Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, khususnya dua peristiwa tersebut."

Sebagai wujud syukur atas dua nikmat tersebut, diadakan santunan kepada veteran Indonesia, kaum dhuafa, dan anak yatim piatu. Sebanyak 50 paket santunan disampaikan, perpaket senilai Rp200.000. 

Dalam serangkaian acara, diikrarkan pula sumpah yang bersifat nasional, meliputi sumpah palapa, sumpah pemuda, sumpah jabatan oleh Letkol Inf Ragil Jaka Utama, S.Hub.Int., M.H, yang menjabat sebagai Komandan Kodim 0809/Kediri, serta sumpah jati diri bangsa. 

Ruwatan Negara ditutup dengan seminar kebangsaan bertema “18 Agustus: Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia”, yang memaparkan fakta-fakta sejarah terkait penetapan 18 Agustus sebagai lahirnya NKRI. 

IMG_20250819_120617_824.webp (162 KB)

Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah berpesan agar bangsa Indonesia selalu menempatkan frasa ‘kemerdekaan’ dengan tepat. "Saya mempunyai harapan semoga bangsa indonesia selamat dari salah letak keliru pasang. Salah meletakkan pasangnya pun salah, antara kemerdekaan bangsa dan lahirnya Negara. Sampai salah letak keliru pasang, akan timbul gelombang protes seluruh indonesia". (OPSHID Media)

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida