Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ Mengabdi Belasan Tahun

· 3 menit baca · Diperbarui

Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ Mengabdi Belasan Tahun

JOMBANG — Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Jombang membangun Rumah Syukur untuk Azamil Ghoni (45), guru Bustan Tsamrotul Qolbis Salim yang telah mengabdikan diri selama 13 tahun di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Jombang. Menyesuaikan kebutuhan penerima, rumah gratis ini mengusung desain mezzanine, model terbaru Rumah Syukur, untuk menggabungkan ruang kegiatan mengaji dengan hunian yang layak.

Ghoni mulai menjadi guru setelah mengikuti diklat yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah pada 2013. Sejak itu, ia membuka kegiatan mengaji di rumahnya sebagai BTQ Cabang Rejoagung. Ghoni sekaligus aktif dalam organisasi YPS Cabang Ploso.

Bagi Ghoni, mengajar bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan. Ia tidak mematok biaya belajar bagi anak-anak yang mengaji kepadanya. Berapa pun yang diberikan, ia menerimanya dengan ikhlas. Baginya, mengajar merupakan bagian dari pengabdiannya kepada Shiddiqiyyah.

“Kalau dikasih ya kita terima aja, kalau tidak ada ya yang penting perjuangannya", ujar Ghoni.

Ia berharap anak-anak yang dibimbingnya tumbuh dengan memahami nilai-nilai ajaran Shiddiqiyyah, memiliki semangat cinta tanah air, dan turut berjuang untuk Indonesia Raya. Harapan itu mendorongnya untuk terus mempertahankan kegiatan mengaji meski rumah yang digunakan belum menyediakan tempat belajar yang memadai.

Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ yang Mengabdi 13 Tahun
Kegiatan BTQ sementara berlangsung di rumah tetangga selama pembangunan.

Di luar kegiatan mengajar, Ghoni menjalani pekerjaan sebagai penjual kopi dan makanan menggunakan gerobak di pinggir jalan. Ia mulai berjualan sejak subuh hingga siang hari, kemudian melanjutkan kegiatan BTQ pada sore hari.

Dari usaha tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000–Rp150.000 per hari. Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan kedua anaknya.

Keterbatasan penghasilan membuat keluarga Ghoni tetap tinggal di rumah tua yang kondisinya sudah rapuh. Saat survei, salah satu tiang penyangga kayu diketahui telah patah. Dindingnya hanya berupa tembok setengah tinggi, sekat antarruang dari papan kayu, dan plafonnya berbahan bambu. Kondisi tersebut membuat Ghoni khawatir rumahnya sewaktu-waktu bisa roboh.

Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ yang Mengabdi 13 Tahun

Di tengah kondisi tersebut, Ghoni berkeinginan mengalihfungsikan rumah lamanya menjadi gedung BTQ dengan cara menghibahkan atau mewakafkannya. Dengan begitu, kegiatan ini mengaji memiliki tempat lebih memadai bagi anak-anak. Ia pun berencana mengumpulkan uang untuk membeli tempat tinggal baru.

“Namanya cita-cita harus setinggi langit. Saya juga ingin punya gedung BTQ sendiri,” ungkapnya.

Namun, dengan penghasilan yang sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mewujudkan rencana tersebut bukan perkara mudah.

Pada Tasyakkuran Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98, OPSHID Dewan Perwakilan Cabang Ploso hadir melalui program Rumah Syukur. Ghoni mengaku terkejut ketika mengetahui dirinya terpilih sebagai penerima program tersebut.

“Rasanya setengah percaya, setengah tidak percaya. Kaget, tahu-tahu dikabari sama OPSHID mau dibuatkan rumah”, jelas Ghoni.

Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ yang Mengabdi 13 Tahun
Progres pembangunan mencapai 80%.

Pembangunan Rumah Syukur untuk Ghoni tidak hanya berfokus pada penyediaan tempat tinggal yang lebih layak. Kebutuhan untuk melanjutkan kegiatan BTQ turut menjadi pertimbangan dalam perencanaan bangunan.

Ketika mengetahui akan mendapatkan rumah baru, Ghoni sempat memikirkan bagaimana kegiatan mengaji dapat terus berjalan. Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian OPSHID dalam merancang rumah yang sesuai dengan kebutuhannya.

Rumah Syukur ini mengusung konsep mezzanine dengan luas bangunan 6 × 9 meter. Lantai bawah dirancang untuk kegiatan BTQ, dilengkapi satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sementara itu, bagian atas difungsikan sebagai ruang tidur tambahan. Total biaya pembangunan mencapai lebih dari Rp100 juta.

Pembangunan ini menjadi bentuk dukungan OPSHID terhadap perjuangan dan pengabdian Ghoni dalam melestarikan ajaran Shiddiqiyyah, melalui pengembangan BTQ. Selain memberikan hunian yang lebih nyaman bagi keluarganya, bangunan tersebut juga dirancang untuk menunjang keberlanjutan kegiatan BTQ.

Viki Vendy, penanggung ketua DPC OPSHID Ploso berharap pembangunan tersebut dapat mendukung kegiatan mengajar Ghoni agar berjalan lebih baik dan maksimal.

Sementara itu, Ghoni menyampaikan rasa syukur atas pembangunan Rumah Syukur. Ia berharap keluarganya senantiasa mendapat barokah dan kegiatan BTQ di Rejoagung terus berkembang.

“Alchamdulillah, saya bersyukur dibangunkan rumah. Ke depannya, semoga kami sekeluarga selalu dilimpahi barokah. Saya berharap BTQ di sini terus berjalan, berkembang, dan lestari untuk menyiapkan generasi penerus Shiddiqiyyah,” harap Ghoni. (OPSHID Media)

Penulis:

Editor: Nuraida