Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis

· 3 menit baca · Diperbarui

Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis

NGANJUK - Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Kabupaten Nganjuk membangun 1 unit rumah gratis untuk keluarga Imam Buchori, warga Desa Sengkut, Kecamatan Berbek, Nganjuk, Jawa Timur. Pembangunan itu diawali dari pembongkaran rumah lama pada hari Jum’at, (18/09/2026) lalu.

Pembangunan hunian yang mencakup pembiayaan 100 persen hingga pengisian perabotan ini dilakukan setelah tim survei menemukan keluarga tersebut tinggal di sebuah kios sempit karena rumah warisan mereka mengalami kerusakan total.

Keluarga Imam Buchori dan istrinya, Ida, sebelumnya terpaksa meninggalkan rumah mereka yang telah rusak parah. Selama bertahun-tahun, pasangan dengan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini memilih menetap di sebuah kios kecil di depan SMK Muhammadiyah, yang juga menjadi tempat Ida bekerja sebagai penyedia jasa permak pakaian.

Kondisi rumah lama sangat memprihatinkan atap bocor, dinding retak, dan sangat rapuh. Buchori khawatir jika sewaktu-waktu rumahnya ambruk dan akan mengancam keselamatan jiwa keluarganya. Meski mereka memilih tinggal di kios tetapi keadaan kiosnya pun tak jauh beda dari rumahnya.

Ida mengisahkan, keterampilannya menjahit didapat setelah mengikuti program di Balai Latihan Kerja (BLK) desa pada tahun 2021. Dengan penghasilan yang tidak menentu—berkisar antara 5 hingga 20 pelanggan per hari dengan tarif Rp10.000 hingga Rp15.000—ia mencicil mesin jahit dan obras bekas untuk menopang ekonomi keluarga. Sementara itu, Imam Buchori bekerja mengelola warung kopi di kawasan belakang pendopo untuk menambah pemasukan.

Tinggal di Kios Jahit Karena Rumah Rapuh. Kini Buchori Dapat Rumah Gratis
Dok. Foto Ida saat menjahit baju

Penanggung Jawab Pembangunan OPSHID Nganjuk, Sutikno, menjelaskan bahwa pemilihan keluarga Buchori didasarkan pada hasil survei lapangan yang mendalam. Pihaknya mengaku prihatin melihat kondisi fisik rumah lama yang kosong serta dampak psikologis terhadap anak-anak yang harus tinggal di lingkungan tidak layak.

"Pembangunan ini murni 100 persen dari gotong royong Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah serta warga Shiddiqiyyah Nganjuk. kami tidak minta sepeserpun dari penerima, seluruh biaya semuanya dari kami. Mulai konsumsi, tenaga kerja, bahkan juga kami siapkan beserta perabotan rumahnya. Penerima tinggal serah terima kunci." ujar Sutikno.

Mengenai program Rumah Syukur tahun ini bisa dilihat pada link berikut: Syukuri Sumpah Pemuda, Para Pemuda Ini Bangun 59 Unit Rumah Gratis

Proses pembangunan ini sempat diwarnai keraguan dari pihak keluarga maupun warga sekitar. Imam Buchori mengakui adanya stigma negatif yang menyebut bahwa bantuan tersebut mustahil mencapai tahap penyelesaian tanpa biaya tambahan. Namun, keraguan tersebut sirna setelah anggota OPSHID bersama warga Shiddiqiyyah memulai proses pembongkaran dan pembangunan secara gotong royong tanpa memungut biaya sepeser pun dari penerima.

Tinggal di Kios Jahit Karena Rumahnya Rapuh. Kini Buchori Dapat Rumah Gratis
Dok. Foto Proses pembangunan RSLHS Nganjuk 

Melihat rumahnya kini dalam proses pembangunan oleh OPSHID, Imam Buchori tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur ia teringat saat awal didatangi oleh OPSHID ia tidak percaya atas bantuan tersebut. "Awalnya saya ragu, bahkan bapak saya sendiripun tidak percaya sama sekali. Tapi ternyata benar-benar dibangunkan. Anak saya sampai bertanya terus, 'ma ini rumah siapa?’. Alchamdulillah kami sangat bersyukur, terima kasih rumahnya udah mau jadi” ungkapnya.

Pembangunan rumah gratis ini dilaksanakan dalam rangka Tasyakkuran Sumpah Pemuda ke-98. Sutikno berharap, setelah mendapat rumah dari OPSHID keluarga Buchori bisa merasakan hidup yang merdeka. "Harapannya agar kehidupan mereka berubah. Istilahnya ini zaman sudah merdeka, tapi mereka belum merasakan merdeka secara hunian. Ya semoga dengan rumah syukur ini, keluarga Buchori bisa merasakan nikmat kemerdekaan yang nyata, dan anak-anaknya bisa bersekolah dengan percaya diri dan tidak merasa minder dengan teman-temannya" terang Sutikno.

Program Rumah Syukur Fatchan Mubiina ini merupakan bagian dari komitmen OPSHID untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan kepedulian sosial terhadap sesama warga negara. Melalui hunian baru, diharapkan kesejahteraan ekonomi keluarga Imam Buchori dapat meningkat seiring dengan tersedianya tempat tinggal yang sehat dan aman bagi pertumbuhan anak-anak mereka. (OPSHID Media)

Penulis:

Editor: Nuraida