ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Syekh Mukhtar Mu’thi: Hati dan Amal, 2 Hal Utama Penilaian Alloh
· 3 menit baca · Diperbarui
Manusia kerap disibukkan dengan urusan penampilan, harta benda, dan kehormatan. Padahal, semua itu bukanlah ukuran penilaian bagi Alloh Ta’ala terhadap manusia. Ada dua hal yang lebih penting untuk diperhatikan dalam menjalani kehidupan, yakni hati dan amal perbuatan.
Pesan tersebut disampaikan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, dalam Mau’idhotul Chasanah pada acara Haul kedua orang tua dari Ibu Nyai Shofwatul Ummah, yakni Bapak Syarif Yusuf dan Ibu Sadiyem, Kamis, 04 Jumadil Ula 1448 H/15 Oktober 2026 M.
Bertempat di Ndalem Sang Mursyid, Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Indonesia, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, beliau menyampaikan pesan tersebut dengan mengutip sebuah hadits:
:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Alloh tidak melihat bentuk rupa dan tidak melihat harta benda kalian. Akan tetapi Alloh Ta’ala hanyalah melihat pada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim No. 2564).
Sang Mursyid menjelaskan bahwa rupa, warna kulit, tinggi badan, kekayaan, kehormatan, maupun banyaknya pengikut bukanlah ukuran utama dalam penilaian Alloh Ta’ala terhadap manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosululloh tersebut, yang menjadi perhatian adalah hati dan amal perbuatan.
Karena itu, manusia hendaknya menggunakan waktu dan tenaganya untuk menjaga hati serta memperbaiki amal. “Bagi orang yang betul-betul memperhatikan hadits tersebut, sepanjang hidupnya di dunia ini tidak perlu susah payah kalau bukan untuk dua tersebut, hati dan amal. Tidak perlu gembira kalau bukan untuk dua tersebut,” jelas Sang Mursyid.
Mengapa hati dan amal menjadi perhatian utama? Sang Mursyid menerangkan bahwa hati merupakan sumber segala perbuatan manusia. Dalam ungkapan bahasa Arab disebutkan, الْقَلْبُ مَلِكٌ (Al-Qolbu Maalikun), yang berarti hati adalah raja. Sementara itu, seluruh anggota badan ibarat rakyat yang mengikuti rajanya.
Apabila hati seseorang baik, maka segala perkataan, niat, dan perbuatannya akan mengarah pada kebaikan, baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Sebaliknya, apabila hatinya buruk, maka keburukan itu dapat tercermin dalam ucapan, niat, maupun tindakan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, menurut beliau, hati sebagai sumber perbuatan dan amal sebagai wujud nyata perbuatan, itu sama-sama perlu diperhatikan. Karena keduanya tidak dapat dipisahkan.
Penjelasan tersebut diperkuat dengan sabda Rosululloh:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, itulah hati.” (HR. Bukhori No. 52 dan Muslim No. 1599).
Lebih lanjut, beliau juga telah mengingatkan pentingnya menghargai waktu sebagaimana yang telah dituliskan dalam Ikrar 8 Kesanggupan Warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Pesan ini menjadi perhatian bagi seluruh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah khususnya, agar kehidupan tidak berlalu hanya untuk kesia-siaan, dan kebanggaan terhadap hal-hal duniawi semata.
Sang Mursyid juga mengingatkan bahayanya mengikuti hawa nafsu yang dapat menjauhkan manusia dari kebenaran. Dalam Al-Qur’an, Alloh Ta’ala telah berfirman:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
Artinya: “Jika kebeneran itu melenceng mengikuti hawa, pastilah langit, bumi, dan segala antara langit dan bumi hancur.” (QS. Al-Mu’minun: 71).
“Jadi karena mengikuti hawa saja menghancurkan langit, bumi. Dan hawa itu ada, menyelinap di dalam hati kita masing-masing. Hawa perbandingan takwa. Takwa, mider-midernya kebaikan. Hawa pusatnya kejahatan,” tambah beliau.
Pesan tersebut rupanya selaras dengan syair dalam Nadhom Adzkiya’:
تَقْوَى الْإِلَهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ ۞ وَاتِّبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلَا
Bahwa taqwa kepada Alloh Ta’ala merupakan pusat kebahagiaan dan kebaikan. Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu malah menjadi pangkal berbagai keburukan yang dapat menjerat manusia.
Sebagai penutup mau'idhoh, Sang Mursyid berharap agar kita seluruh Warga Thoriqoh Shiddiqiyyah senantiasa mendapat perlindungan Alloh Ta’ala dari tipu daya kehidupan dunia, serta mampu menjaga hati dan memperbaiki amal dalam setiap keadaan. (OPSHID Media)
- Syekh Mukhtar Mu’thi: Hati dan Amal, 2 Hal Utama Penilaian Alloh
- Minim Biaya, OPSHID Madura Tetap Bangun Rumah Gratis
- Jelang Hari Pahlawan, PCTA Indonesia Bangun Rumah Gratis Untuk Janda di Tuban
- Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati
- Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah
- Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis
- Sempat Bimbang, OPSHID Ngawi Akhirnya Tetap Bangun Rumah Syukur