ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Resmikan 98 Unit Rumah Gratis, OPSHID Hidupkan Jiwa Sumpah Pemuda
28 Oktober 2025 15:59

Pun apresiasi datang dari Bupati Jombang atas adanya program Rumah Syukur ini, menurutnya program ini sangat luar biasa karena dilakukan secara mandiri dan konsisten.
"Pada saat ini rumah syukur sangat luar biasa, program yang bisa membantu masyarakat, bisa meringankan beban masyarakat mulai dari 0. Yang dananya murni dari para donatur warga Shiddiqiyyah yang luar biasa, bisa membantu sama lain, ini adalah bentuk syukur kepada Alloh Subchanahu Wa Ta’ala", tanggapan Warsubi Bupati Jombang mengenai program Rumah Syukur.
Dalam rangkaian acara yang sama, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menyampaikan pitutur kebangsaan bahwa, Negara kita bukanlah Negara yang berdiri dari bantuan luar atau yang disebut Negara Persatuan, melainkan negara yang berdiri sendiri alias Negara Kesatuan Republik Indonesia, perbedaan tersebut menjelaskan bahwa NKRI lahir dari keinginan luhur bangsanya sendiri, yang dimulai dari peristiwa Sumpah Pemuda.
Bahwa dari Negara Kesatuan Republik Indonesia lahirlah lagu kebangsaan Indonesia Raya yang intinya: Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya Merdeka Merdeka, Tanahku Negeriku yang kucinta. Dan terkait dengan lambang Negara Kesatuan kita yang berlambang burung Garuda berarti jiwa yang besar, terbang dengan mencekram Bhinneka Tunggal Ika.
“Jadi jiwa bangsa Indonesia itu jiwa besar, bukan jiwa kecil. Maka saya katakan, lahirnya nama ‘Negara Kesatuan’ dari Sumpah Pemuda, lahirnya ‘lambang Negara’ dari lagu kebangsaan Indonesia,” pitutur luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Tidak hanya itu, beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia adalah Negara Nasional, yang berjiwa internasional. Sebagaimana disebutkan sebanyak 2 kali kata “dunia” dalam ‘Kitab Suci Negara’ yakni Pembukaan UUD 1945.
Pada alinea 1: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..”, di sini yang dimaksud adalah menghapus sifat penjajahan, bukan manusianya. Dan pada alinea 4: “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial", di sini Indonesia turut mengambil peran menertibkan dunia.
Syekh Mukhtar kemudian menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negara nasional tapi berjiwa internasional.
Dari semangat yang menyala di tahun 1928 hingga karya nyata di tahun 2025, jelas tergambar bahwa jiwa muda Indonesia tak pernah padam. Apa yang dilakukan oleh para pemuda-pemudi Shiddiqiyyah hari ini bukan sekadar membangun rumah — mereka sedang membangun makna dari kata “merdeka” itu sendiri. Merdeka untuk peduli, untuk berbagi, untuk berdiri teguh di atas nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Di tengah zaman yang serba cepat, mereka memilih langkah yang lebih bermakna: menyalakan api perjuangan dengan didasari rasa syukur. Sebab semangat pemuda bukan diukur dari usia, tapi dari seberapa besar cintanya pada tanah air dan sesama manusia. Dari jiwa besar inilah Indonesia Raya benar-benar hidup — tepatnya di hati mereka yang mau bergerak untuk kemanusiaan. (OPSHID Media)
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon