ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaRumah Syukur untuk Ayem Sarjono, 20 Tahun Berjuang Bersama OPSHID
· 3 menit baca · Diperbarui
MADIUN — Pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah yang digagas oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) DPD Madiun tahun ini menghadirkan kisah yang menyentuh hati. Jika dua tahun sebelumnya program rumah gratis ini difokuskan bagi warga umum yang membutuhkan, kali ini OPSHID DPD Madiun sengaja mengarahkan perhatiannya ke dalam internal organisasi.
Penerima manfaat rumah syukur tersebut adalah Ayem Sarjono, seorang anggota setia yang telah mendedikasikan hidupnya berjuang bersama OPSHID selama kurang lebih dua dekade.
DUA DEKADE MENUMPANG, TETAP SETIA MENGABDI
Ayem Sarjono adalah warga Dusun Krajan, Desa Metesih, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Selama bertahun-tahun, Sarjono dan istrinya harus menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian dengan berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lainnya karena belum mampu memiliki hunian sendiri. Di samping belum memiliki tempat tinggal tetap, pasangan suami istri ini juga belum dikaruniai buah hati.
Meski hidup dalam keterbatasan dan kesederhanaan, semangat Sarjono untuk mengabdi tidak pernah surut. Selama sekitar 20 tahun menjadi bagian dari OPSHID, ia selalu meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat daerah Madiun maupun di pusat Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Losari, Ploso, Jombang.
RUMAH SYUKUR: MERANGKUL KESEJAHTERAAN INTERNAL
Program Rumah Syukur Shiddiqiyyah sejatinya merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu masyarakat kurang mampu agar memiliki tempat tinggal yang layak. Namun, tahun ini OPSHID DPD Madiun membawa sudut pandang dan pertimbangan baru.
Langkah ini diambil bukan karena mengabaikan masyarakat luar, melainkan sebagai bentuk keseimbangan kepedulian. OPSHID menyadari bahwa organisasi bukan sekadar tentang deretan program dan target pencapaian, melainkan tentang manusia-manusia di dalamnya yang telah banyak berkorban.
Sarjono dipilih atas dasar perjalanan pengabdian panjangnya. Ada nilai mendasar yang diusung: perjuangan yang panjang semestinya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kehidupan orang-orang yang menjalankannya.
Tulisan ini merupakan kiriman pembaca. Isi dan pendapat di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari