ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiMembantu Mengurangi Angka Kemiskinan, Bagaimana Caranya? (Bagian II)
· 4 menit baca · Diperbarui
Gotong Royong
Di saat gotong royong komunal menjadi sebuah anomali, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) justru sudah melaksanakan berbagai program sosial berbasis gotong royong sejak tahun 2002. Sebut saja santunan sembako, santunan medis, hingga santunan rumah. Dan semua itu, dilakukan secara mandiri tanpa tendensi politik dan berasal dari gotong royong komunal—baik itu dari pembiayaan, perencanaan, tenaga, semua berasal dari dalam komunitas OPSHID dan warga Shiddiqiyyah sendiri.
Contohnya adalah program Rumah Syukur Layak Huni Oktober 2023 ini, dimana OPSHID membangun 66 rumah. Menurut keterangan dari Bapak Aria Rahman dari Departemen Sosial Kemanusiaan OPSHID dalam bincang-bincangnya bersama OPSHID Media pada podcast “Tanya Jawab Rumah Syukur bersama Aria Rahman”, bahwa fokus pembangunan adalah pada momentumnya. “Pembangunan tersebut hubungannya pada nilai Sumpah Pemuda. Maka otomatis meninggalkan semua identitas kekelompokan kita, hanya sama-sama sebagai anak Bangsa Indonesia dan sama-sama sebagai orang yang beriman. Jadi kita anggap sama, yang penting sesuai kriteria”, terang Aria, “dan yang pasti non-politik. Politik kita itu hanya satu, politik Cinta Tanah Air”.
Tidak hanya itu, faktor lain yang layak diperhatikan bahwa program ini merupakan bukti nyata gotong royong, adalah pendanaannya berasal dari kemandirian OPSHID. “Tentunya dari Berkat Rochmat Alloh yang pertama. Yang kedua dari kemauan dan kesadaran jiwa-jiwa OPSHID. Yang ketiga ada support dari perusahaan tercinta kita, Sehat Tentrem. Tentunya dulu sebelum ada ST ya urunannya lebih ekstrim tahun-tahun itu”, jelas Aria tentang sumber pendanaan Rumah Syukur.
Apa yang hendak dicapai OPSHID dengan dibangunnya rumah-rumah ini? Menurut Aria, rumah adalah ‘monumen’. “Rumah Syukur itu sendiri kan bentuk daripada monumen. Jadi OPSHID membangun monumen Sumpah Pemuda, tapi tidak terasa itu sebagai monumen” terangnya.
Secara praktikal, monumen itu bisa bermanfaat untuk dihuni penduduk Bangsa Indonesia yang berhak mendapatkannya. Secara filosofis, mengandung berbagai perlambang nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda dan cinta Tanah Air. Secara psikologis, rumah bisa menjadi solusi inti untuk mengangkat seseorang dari jurang kemiskinan.
- Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah
- Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis
- Sempat Bimbang, OPSHID Ngawi Akhirnya Tetap Bangun Rumah Syukur
- Sehat Tentrem Dukung Pembangunan 59 Rumah Gratis OPSHID
- Syekh Mukhtar: Jaami'atul Mudzakkirin Pedoman Dan Jangkar Kehidupan
- Terdampak Penggusuran, Petugas Kebersihan Dapat Rumah Gratis OPSHID
- 3 Rumah Syukur Gratis OPSHID Malang Raya Target 21 Hari