ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
19 Maret 2026 17:00
Nilai Keimanan dan Kemanusiaan Dalam Zakat Fitrah
Puasa membuat orang merasakan lapar dan haus. Tetapi pengalaman itu hanya sementara. Saat waktu berbuka tiba, rasa tidak nyaman itu segera hilang, berganti dengan kelegaan, bahkan kegembiraan.
Namun bagi sebagian orang, keadaan seperti itu bukan sekadar pengalaman sesaat. Ada mereka yang hidup dalam kondisi serba terbatas, yang akrab dengan lapar dan haus bukan karena ibadah, melainkan karena keadaan. Apa yang dirasakan selama berpuasa, dalam batas tertentu, memberi gambaran tentang kehidupan yang mereka jalani setiap hari.
Pada bagian ini, zakat fitrah dapat dipahami sebagai bagian penting dari ajaran Islam yang tidak hanya mengatur kewajiban ibadah, tetapi juga memberikan kepedulian sosial. Zakat fitrah ditempatkan sebagai sarana untuk memastikan orang-orang miskin mendapatkan makanan dan berada dalam kondisi cukup pada hari raya, sehingga mereka tidak harus meminta-minta dan tetap dapat merasakan suasana Idul Fitri bersama masyarakat lainnya.
Zakat fitrah juga tidak bisa dilepaskan dari puasa Romadlon. Dalam kenyataannya, menjaga lapar dan haus jauh lebih mudah dibanding menjaga ucapan dan perilaku. Padahal, puasa yang utuh justru terletak di sana. Karena itu, zakat fitrah berfungsi sebagai penyempurna, untuk menutup kekurangan yang mungkin terjadi selama berpuasa. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW:
“Rosululloh SAW telah mewajibkan zakat fitrah, untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada manfaatnya dan perkataan kotor, serta untuk memberi makanan pada orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Abbas)
Di sisi lain, terdapat dimensi sosial yang tak terpisahkan. Hari raya kerap dimaknai sebagai momen kebahagiaan dan kebersamaan. Namun, makna itu terasa timpang ketika kebahagiaan hanya dirasakan oleh sebagian orang, dan sebagian yang lain masih kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar.
Karena itu, zakat fitrah berfungsi lebih dari sekadar kewajiban individual. Perannya tampak sebagai penghubung antara yang mampu dan yang membutuhkan.
Zakat fitrah memperlihatkan bagaimana keimanan dan nilai kemanusiaan berpadu dalam pengamalannya. Dari sana, tampak bahwa ibadah ini tidak berhenti pada kewajiban spiritual, tetapi turut membuka jalan bagi keseimbangan sosial dan upaya pemerataan ekonomi. (OPSHID Media)
Referensi:
- Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Mauidhotul Chasanah.
- Ibnul Qayyim al-Jawziyyah, Zadul Ma’ad, Jilid 2.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak