ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
9 Syahru Romadlon 1364 Hijriyyah: Ibarat Lailatul Qodar Bagi Bangsa Indonesia
05 Maret 2026 10:00

Lailatul Qodar merupakan salah satu momentum spiritual paling agung dalam Islam yang memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan seribu bulan.
Dalam perspektif tashawwuf, keutamaan malam tersebut tidak semata diukur dari dimensi waktu kronologis, melainkan dari nilai spiritual (qodar) yang terkandung di dalamnya.
Lailatul Qodar adalah waktu yang mulia bagi umat Muslim, yaitu waktu yang memiliki nilai kemuliaan dan keberkahan di bulan Romadlon.
Nilainya lebih baik dari seribu bulan, saat di mana Al-Qur'anul Kariim diturunkan dari Lauchil Machfudh ke Baitul ‘Izzah di Samaa-ud Dun-ya.
Serta merupakan malam yang memiliki kedudukan sangat istimewa. Keistimewaan tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Qodr ayat 3 yang menyatakan bahwa “Lailatul Qodri khoirun min alfi syahr” artinya malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Ayat ini membuka cakrawala pemahaman bahwa waktu dalam Islam tidak selalu diukur secara kuantitatif, melainkan juga secara kualitatif.
Tashawwuf mengajarkan bahwa satu detik yang dipenuhi dengan kesadaran akan kehadiran Alloh lebih bernilai daripada bertahun-tahun kehidupan yang kosong dari makna spiritual.
Oleh karena itu, konsep qodar dalam Lailatul Qodar tidak dimaknai sebagai sekadar takdir, tetapi juga sebagai nilai atau kualitas dari waktu itu sendiri.
Lailatul Qodar dapat dipahami sebagai waktu yang memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Secara matematis, seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun 4 bulan. Lailatul Qodar bukan hanya waktu yang penuh pahala, tetapi juga malam turunnya rochmat dan ketetapan Alloh.
Bangsa Indonesia mengalami penjajahan selama kurang lebih 434 tahun sejak kedatangan Portugis hingga masa kekuasaan Jepang. Dalam rentang waktu panjang tersebut, bangsa Indonesia mengalami eksploitasi, perpecahan, pembungkaman, dan penindasan.
Jika dilihat dari sudut pandang tashawwuf, masa penjajahan adalah waktu yang panjang tetapi bernilai penderitaan. Ia adalah masa di mana nilai kemanusiaan dan kebebasan dirampas. Namun demikian, di balik penderitaan tersebut, terdapat api perjuangan yang tidak pernah padam, yakni sebuah “nur” spiritual yang terus hidup dalam jiwa rakyat Indonesia.
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta yang mewakili Bangsa Indonesia merupakan momen yang secara waktu sangat singkat, tetapi memiliki nilai yang sangat besar.
Jika penjajahan 434 tahun diibaratkan sebagai waktu panjang tanpa kemuliaan, maka kemerdekaan adalah satu “malam bernilai” yang mengubah seluruh arah sejarah bangsa.
Seperti halnya Lailatul Qodar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, kemerdekaan Indonesia memiliki nilai yang melampaui ratusan tahun penjajahan. Dalam satu momentum, bangsa Indonesia mendapatkan kembali:
Kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan fisik, tetapi juga buah dari doa, pengorbanan, dan keberkahan Ilahi.
Sebagaimana Lailatul Qodar merupakan malam turunnya rochmat dan ketetapan Alloh, kemerdekaan Indonesia juga dapat dipandang sebagai ‘tajalli’ rochmat Alloh kepada bangsa yang telah lama menderita.
Hal ini tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah “Atas Berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa”.
Sebelum kemerdekaan, bangsa ini hidup dalam kondisi ‘tidak bernilai’ karena tidak memiliki kebebasan. Namun sejak 9 Sy. Romadlon 1364 atau 17 Agustus1945, setiap detik kehidupan bangsa memiliki nilai kemerdekaan. Oleh karena itu, menjaga kemerdekaan berarti menjaga nilai waktu bangsa.
Syekh Mukhtar dalam pitutur luhurnya pada Tasyakkuran Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia Dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 2024 mengingatkan, "Jadi kedua-duanya (kemerdekaan berdasarkan penanggalan Masehi dan Hijriyyah -red) harus kita syukuri supaya generasi seterusnya ini gak gampang dibujuki wong-wong sing nggak ngerti, yang hanya mengandalkan kekuasaan saja".
"Makanya disamping kita itu memperingati dan mensyukuri di bulan masehi jangan lupa akan bulannya kita sendiri, yaitu bulan hijriyyah. Kalau Masehi kelahiran Nabi Isa, lha kalau hijriyyah itu dari hijrahnya Nabi Muchammad dari Mekkah ke Madinah. Apa kita lupa kepada Nabi Muchammad? Salah besar", lanjut Syekh Mukhtar.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga dihayati sebagai momentum spiritual untuk membangun bangsa yang adil, makmur, dan diridhoi oleh Alloh SWT.
====
Sumber:
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman