ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
9 Syahru Romadlon 1364 Hijriyyah: Ibarat Lailatul Qodar Bagi Bangsa Indonesia
05 Maret 2026 10:00
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman panjangpenjajahan selama lebih dari empat abad. Dalam kurun waktu tersebut, bangsa Indonesia mengalami penderitaan, eksploitasi, dan upaya sistematis untukmenghancurkan jati diri bangsa.
Hal ini untuk mengingatkan makna historis penjajahan terhadap pembentukan mentalitas bangsa, sekaligus menyoroti pengtingnya membangun kembali jati diri bangsa sebagai bentuk perlawanan terhadap mental penjajahan yang masih tersisa.
Dengan pendekatan historis yang juga reflektif ini merupakan upaya menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan sekedar bebas dari penjajah fisik, tetapi juga pembebasan dari mentalitas rakus, korup, dan tidak cinta tanah air.
Kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan peristiwa historis yang tidak hanya bernilai politis, tetapi juga spiritual. Dalam perspektif tashawwuf, nilai sebuah peristiwa tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kualitas dan dampaknya.
Konsep Lailatul Qodar yang “lebih baik dari seribu bulan” memberikan kerangka reflektif untuk memahami bahwa satu momentum kemerdekaan dapat memiliki nilai yang melampaui ratusan tahun penderitaan penjajahan.
MEMBANGUN JATI DIRI BANGSA PASCA PENJAJAHAN: REFLEKSI SEJARAH DAN PERJUANGAN MORAL BANGSA INDONESIA
Sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan. Terhitung sejak kedatangan bangsa Eropa seperti Portugis pada abad ke-16 hingga kemerdekaan pada tahun 1945, bangsa Indonesia telah mengalami tekanan dan penindasan selama kurang lebih 434 tahun.
Masa penjajahan tersebut silih berganti antara kekuasaan Perancis, Inggris, Belanda, hingga Jepang. Setiap periode meninggalkan luka, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis.
Penjajahan tidak hanya berbentuk penguasaan wilayah, tetapi juga penghancuran identitas bangsa. Para penjajah berupaya membungkam suara rakyat dengan melarang aktivitas politik, menyensor informasi, dan memecah belah persatuan melalui politik adu domba. Strategi ini terlihat jelas dalam konflik antar suku, antar kerajaan, bahkan antar ulama.
Penggambaran kondisi bangsa Indonesia pada masa itu sering diibaratkan seperti “ayam potong”—sebuah metafora yang menggambarkan betapa tidak berdayanya rakyat yang terus-menerus menjadi korban kekuasaan asing. Namun di balik penderitaan tersebut, tersimpan api perjuangan yang tidak pernah padam.
Perlawanan rakyat terhadap penjajahan muncul dalam berbagai bentuk, seperti perang Jawa, perang 10 November, Agresi Militer. Perlawanan tersebut menunjukkan bahwa meskipun rakyat ditindas, semangat kemerdekaan tetap hidup.
Selama 434 tahun penjajahan, semangat perlawanan bangsa Indonesia tidak pernah benar-benar padam. Gelombang perjuangan memang mengalami pasang surut, namun jiwa merdeka tetap hidup dalam hati rakyat. Hal ini diyakini bersumber dari kekuatan spiritual dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Para tokoh nasional seperti Soekarno menjadi simbol perlawanan intelektual dan moral terhadap penjajahan. Dalam karya monumentalnya Indonesia Menggugat, Soekarno menegaskan bahwa penjajahan harus dihapus bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak