ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
9 Syahru Romadlon 1364 Hijriyyah: Ibarat Lailatul Qodar Bagi Bangsa Indonesia
05 Maret 2026 10:00
Kemerdekaan yang diraih pada tahun 1945 tidak serta-merta menghapus mental penjajahan. Sifat rakus, korupsi, tidak cinta tanah air, dan pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat masih menjadi persoalan serius. Fenomena korupsi berjamaah merupakan salah satu bukti bahwa mental penjajahan masih bercokol dalam tubuh bangsa.
Mentalitas ini mencerminkan nilai-nilai yang diwariskan oleh penjajah: keserakahan, kezaliman, dan keinginan untuk berkuasa tanpa batas. Oleh karenaitu, perjuangan masa kini adalah perjuangan moral untuk membersihkan karakterbangsa dari sifat-sifat tersebut.
Sejarah panjang penjajahan selama 434 tahun telah membentuk karakter bangsa Indonesia yang tangguh dan penuh semangat perjuangan.
Meskipun mengalami penderitaan dan penindasan, api kemerdekaan tidak pernah padam. Namun, kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajah fisik, tetapi juga bebas dari mental penjajahan yang masih tersisa.
Oleh karena itu, pembangunan jati diri bangsa melalui pendidikan, penguatan moral, dan kesadaran sejarah menjadi kunci utama dalam menjaga kemerdekaan.
Bangsa Indonesia harus terus berjuang membersihkan diri dari sifat-sifat negatif warisan penjajahan dan membangun masa depan yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, persatuan, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mari kembali pada momentum saat yang berbahagia bagi bangsa Indonesia dengan membaca ulang teks kemerdekaan:
Kami bangsa Indonesia dengan inimenyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahankekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Para pendiri bangsa ini sadar bahwa kemerdekaan adalah sebuah nikmat agung dari Alloh Yang Maha Esa. Dan momen ini tidaklah panjang, itulah mengapa terdapat kalimat ‘dalam tempo sesingkat-singkatnya’.
Dalam Undang-undang dasar 1945 alenia ke 2 juga disebutkan:
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah ‘saat yang berbahagia’, menunjukkan momen singkat tidaklah panjang namun nilainya seperti keagungan seribu bulan.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak