ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiSya’ban: Bulan Berkah Yang Kerap Terlewati
05 Februari 2026 17:00 · 5 menit baca
Bulan Sya’ban merupakan bulan yang letaknya di tengah antara bulan Rojab dan bulan Romadlon. Bagi umat Islam, ketiganya memiliki kedudukan penting dalam praktik beribadah.
Tiap kali memasuki bulan Rojab, Rosululloh SAW berdo'a:
"Allohumma Baariklanaa fii Rojabi, wa Sya’bana wa Balighna Romadlon”
Yang maknanya mohon kepada Alloh agar diberi keberkahan di bulan Rojab, Sya’ban dan sampai bulan Romadlon.
Kemudian Syekh Abdul Qodir Jaelani dalam kitab Ghoniyyah membuat perumpamaan atas kesinambungan tiga bulan tersebut, “Bulan Rojab itu menyebar benih, bulan Sya’ban itu mengairi dan bulan Romadlon itu panen”.
Doa dan perumpamaan ini dapat dimaknai bahwa ketiga bulan tersebut saling berkaitan erat.
Namun demikian, perhatian terhadap bulan Sya’ban sering kali berada di posisi marginal, terhimpit di antara keutamaan bulan Rojab dan kemuliaan bulan Romadlon. Kondisi tersebut menyebabkan Sya’ban kerap dipahami sebatas bulan transisi, bukan sebagai momentum ibadah yang berdiri secara mandiri dan signifikan.
Dalam berbagai riwayat hadits menunjukkan bahwa Rosululloh SAW memberikan perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban, terutama melalui intensitas ibadah yang beliau lakukan. Hal ini menandakan bahwa Sya’ban memiliki dimensi spiritual dan edukatif yang penting, khususnya sebagai fase persiapan menuju bulan Romadlon.
BULAN SYA’BAN KERAP TERLUPAKAN
Keutamaan bulan Sya’ban dapat ditelusuri melalui sejumlah hadits shohih yang menjelaskan praktik ibadah Rosululloh SAW dalam bulan tersebut. Salah satu hadits yang paling sering dijadikan rujukan adalah riwayat dari Usamah bin Zaid r.a., beliau menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ketika ditanya mengenai hal tersebut, Rosululloh bersabda bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, yang terletak di antara Rojab dan bulan Romadlon, dan pada bulan tersebut amal-amal diangkat kepada Alloh SWT.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟
فَقَالَ:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
Dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata: Wahai Rosululloh, aku tidak melihat engkau berpuasa dalam satu bulan pun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.
Beliau bersabda: Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, berada di antara Rojab dan bulan Romadlon. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Robb seluruh alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”. (HR. Imam Baihaqi).
Jika dijabarkan, hadits ini mengandung beberapa poin penting. Pertama, Sya’ban disebut sebagai bulan yang “dilupakan oleh manusia” (yaghfulun naasu), yang menunjukkan kecenderungan manusia untuk mengabaikan fase-fase persiapan dalam ibadah. Dalam konteks ini, Rosululloh SAW justru mencontohkan sikap yang berlawanan dengan kebiasaan umum, yaitu menghidupkan bulan yang kurang mendapatkan perhatian.
Kedua, Sya’ban disebut sebagai waktu diangkatnya amal-amal manusia. Konsep pengangkatan amal memiliki implikasi teologis yang mendalam, karena berkaitan dengan evaluasi dan penerimaan amal di sisi Alloh SWT. Rosululloh SAW menegaskan keinginannya agar amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa, yang menunjukkan keutamaan puasa sebagai ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Tak hanya itu, bulan Sya’ban juga disebut bulan sholawat atau bulannya Nabi Muhammad SAW, hal ini lantaran pada bulan Sya'ban turun ayat Al Qur-an surat Al Ahzab ayat 56 yang berisi perintah membaca sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikin, Rosululloh tengah menunjukkan bahwa keutamaan bulan Sya’ban tidak hanya terletak pada aspek temporalnya, tetapi juga pada nilai kesadaran spiritual, konsistensi ibadah, dan kesiapan menghadapi Syahrulloh atau bulan Romadlon.
- Dukung Rumah Gratis OPSHID, 2 Batalyon Brimob Pekalongan Turun Membantu
- Syukuri Sumpah Pemuda, Para Pemuda Ini Bangun 59 Unit Rumah Gratis
- Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf
- Tambah Satu Unit, Yatim Piatu di Ngawi Terima Rumah Gratis dari OPSHID
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- OPSHID Sidoarjo Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Boro
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!