ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Konsisten Membangun Indonesia Melalui Program Santunan Rumah Gratis
23 Oktober 2024 17:00


Sejak 2010 hingga 2024 dari program tersebut sudah terwujud 308 unit rumah. Tiap unitnya diperkirakan senilai Rp 150.000.000, yang berarti total nilainya adalah sejumlah Rp 30.169.477.000.
Terlihat dari grafik diatas, bahwa dalam dua tahun ini jumlah unit yang dibangun meningkat pesat, dan tahun ini 83 unit adalah jumlah rumah syukur yang dibangun dalam satu program terbanyak sepanjang sejarah OPSHID. Ini bisa membuktikan bahwa kesadaran dan kepedulian anak muda terhadap isu sosial semakin meningkat.
Anggota OPSHID meyakini bahwa programnya merupakan fakta bicara dari Hadits Chubbul Wathon Minal Iman yang diajarkan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
“Diawali dengan kata hubb artinya cinta, cinta tanah air bagian dari iman dan hukumnya wajib ain. Cinta yang sejati, bukan cinta pencitraan, bukan cinta palsu, bukan cinta munafik. Saya ingin murid-murid Shiddiqiyyah memiliki cinta kepada negara kesatuan Republik Indonesia, cinta kemerdekaan, cinta kepada bangsa. Fakta bicara jangan bicara tanpa fakta, itu munafik. Semuanya diringkas dalam kalimat Kesatuan, NKRI.” Dawuh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Ketika kunjungan S3 (Shilaturachmi Santun Shodaqoh) di Mojokerto pada Agustus 2023, Kyai Mukhtar menyampaikan, “ingatlah pemuda-pemuda Shiddiqiyyah, ini kewajibanmu, ya bangun rumah, ya harus mensyukuri nikmat besar Sumpah Pemuda itu.”
Pemilihan penerima rumah syukur tidak memandang suku, agama dan ras. Siapapun dia, apapun agamanya, dari mana saja asalnya, jika memenuhi persyaratan maka berhak menerima rumah gratis yang disebut rumah syukur.
Aria Rahman sebagai Departemen Pengabdian Masyarakat DPP OPSHID FKYME menyampaikan, kriteria penerima rumah diantaranya adalah kaum dhu’afa; memiliki tanah yang tidak dalam sengketa (baca juga: jurnal Tak Hanya Berikan Rumah, Tapi Juga Kemerdekaan Bagi Pemilik Rumah); kesulitan mengumpulkan ekonomi; atau dalam keadaan sakit fisik maupun mental.
Semua penerima rumah memiliki kisah masing-masing. Seperti U’it, seorang Hindu yang tinggal di lereng Gunung Semeru, puluhan tahun, menempati rumah kayu sederhana yang lebarnya hanya 4x6m2 bersama anak dan cucunya. Tinggal di daerah yang subur, tak membuat keluarga U’it makmur. Puluhan tahun tinggal di daerah itu, penghasilannya tak cukup untuk membeli ladang sendiri. Hingga di usia tua, ekonominya tak kunjung membaik. Selengkapnya kisah U'it dapat dibaca pada feature berikut: U'it dan Sudarsono: Rochmat Tuhan Tidak Pernah Pandang Agama.
Juga Erwan dan Surip yang bekerja sebagai pemulung sampah di Ibu Kota Jakarta, penghasilannya hanya Rp150.000 sampai Rp200.000 perbulan. Tentunya pengasilan ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, apalagi dengan tiga orang anak. Karena itulah, semua anaknya dititipkan di panti asuhan. Selengkapnya kisah Erwan dan Surip dapat dibaca pada feature berikut: Erwan dan Surip: Kami Ingin Mereka Punya Tempat Untuk Pulang
Mereka hanyalah sebagian kecil, dari sekian juta masyarakat Indonesia yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, di tanah yang merdeka ini.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan