ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Tak Hanya Berikan Rumah, Tapi Juga Kemerdekaan Bagi Pemilik Rumah
20 Oktober 2024 12:00

Sebagaimana yang terjadi di Lamongan, dua penerima Rumah Syukur adalah janda ditinggal mati oleh suaminya. Penerima pertama bernama Nisfaiyah dengan kelima anaknya yang tinggal di rumah sepetak dan penerima kedua, Darukmi dengan kedua anaknya yang menumpang tinggal di rumah keluarga almarhum suaminya.
Kedua penerima sama-sama memiliki permasalahan dengan tanah. OPSHID Lamongan, mengupayakan agar Rumah Syukur yang direncakan sejak awal tetap bisa mereka terima. Tanpa pikir panjang, dengan segala proses yang dilalui OPSHID Lamongan memutuskan membeli sebidang tanah yang muat untuk dua rumah sekaligus. Esok, rumah inilah yang akan dipersembahkan kepada Ibu Nisfaiyah dan Ibu Darukmi.
Kisah mereka selengkapnya dapat dibaca di sini: Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra-putrinya
Tak jauh berbeda dengan kisah Mbah Samini, rakyat miskin yang mengalami konflik tanah dengan perusahan tambang pasir dan batu. Kerukan tambang perlahan menciptakan jurang sedalam 10 meter di batas tanah milik Samini. Kekhawatiran tak terbendung, ia menyampaikan rasa takutnya jika terjadi longsor. Pihak perusahan menawarkan mbah Samini dan keluarga untuk menempati sementara tanah dari pemilik perusahaan, sebelum akhirnya ditukar guling ke tanah yang lain yang belum bersertifikat.
Mengetahui ketidaklayakan tempat tinggal Samini, OPSHID Pemalang membangunkan Rumah Syukur untuk Samini. Dan untuk kelancaran prosedur pembangunan, tanah tukar guling tersebut diurus sertifikasinya oleh OPSHID hingga selesai dan sah menjadi hak milik Samini di mata hukum. Selengkapnya kisah Samini dapat dibaca di sini: Samini: Tersingkir Karena Miskin
Di tengah panasnya krisis ekonomi, meroketnya harga hunian, besarnya pajak tanah, masih ada organisasi pemuda yang mau membangunkan rumah gratis kepada mereka yang belum merasakan kemerdekaan hunian di atas tanah airnya sendiri.
Rumah Syukur merupakan upaya memberantas kemiskinan, membebaskan jiwa yang belum merdeka. Dengan membangunkan rumah yang tidak layak huni menjadi rumah layak huni akan menimbulkan kesehatan mental dan ketentraman jiwa, sampai pada perubahan untuk beranjak pergi dari jeratan kemiskinan. (OPSHID MEDIA)
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur