ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kesalahan Berlogika Dalam Frasa “Kemerdekaan Republik Indonesia”
17 Agustus 2024 07:00
Dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 Alinea ke-2:
“Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
“Mengantarkan Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia”, berarti kemerdekaan itu ibarat jembatan yang mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang. Sedangkan pintu gerbang itu sendiri merupakan Negara Indonesia yang bertujuan untuk merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
“Jadi masih di depan pintu gerbang NKRI. Tanggal 18 Agustus baru masuk pintu gerbang Negara,” pitutur luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi di acara Shillaturrochmi Lintas Agama dan Seminar Kebangsaan dalam rangka mensyukuri Hari R.A. Kartini 2024.
Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-3 juga menjelaskan bahwa rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya dengan pertolongan Alloh dan cita-cita luhur yaitu berkehidupan kebangsaan yang bebas.
“Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Dalam salah satu lagu nasional Indonesia, “Hari Merdeka” ciptaan H. Mutahar tidak satu pun terdapat kata REPUBLIK. Berikut bunyi liriknya:
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita
Jelas pula disebutkan “Hari lahirnya Bangsa Indonesia”. Inilah lagu akte kebangsaan Indonesia karangan H. Mutahar, atas perintah Soekarno supaya sejarah “Kemerdekaan Bangsa Indonesia” tidak diselewengkan. Namun kini yang terjadi malah sebaliknya.
Menurut keterangan Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia dalam Shillaturrochmi & Tasyakkuran Tahun Baru Hijriyyah Ke – XXII Tahun 1446H, hal ini sama saja menjatuhkan martabat bangsa sendiri kepada muka dunia.
“Itu yang memerintah buat akte kelahiran Bangsa Indonesia ini Bung Karno sendiri, dan pada waktu itu Mutahar itu jadi ajudannya. Sudah ada akte seperti itu, kok masih dilupakan, ‘kemerdekaan Republik’. Kalau ini dinormalkan, apa kata dunia terhadap Bangsa Indonesia? Ini jangan kita menjatuhkan martabat bangsa ini yang sudah merdeka”.
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang