Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Bubur Syuro, Tradisi Turun Temurun dari Nabi Nuh

22 Juli 2024 17:00

Bubur Syuro, Tradisi Turun Temurun dari Nabi Nuh

SEKILAS SEJARAH DARI ZAMAN NABI NUH A.S

Sejarah lengkapnya diterangkan dalam kitab Bada'iuz Zuhur (hal. 64) karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafiy (sejarawan Mesir) dan murid dari Jalaludin Abdur Rahman As Suyuti (911 H). Disebutkan sebagai berikut :

Imam Al-Tsa’labiy berkata : “Perahu Nabi Nuh A.S mendarat sempurna di sebuah gunung bertepatan tanggal 10 Muharrom / hari ‘Asyuro, maka Nabi Nuh A.S melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunya untuk melakukan puasa pada hari ‘Asyuro sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh SWT. Dan diriwayatkan bahwa seluruh hewan yang ikut dalam perahu Nabi Nuh A.S juga melaksanakan puasa.

Kemudian Nabi Nuh A.S mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal, tidak banyak sisa yang didapat. Kemudian Nabi Nuh A.S mengumpulkan sisa biji-bijian itu, ada tujuh macam jenis biji-bijian, jumlahnya tidak banyak. Kemudian disatukan dan dijadikan makanan agar cukup untuk Nabi Nuh dan pengikutnya. Dan pada tahun-tahun berikutnya Nabi Nuh A.S dan kaumnya selalu puasa ‘Asyuro dan membuat makanan seperti itu (bubur) pada hari ‘Asyuro (10 Muharrom).

Setelah itu Nabi Nuh dan umatnya diperintahkan turun dari kapal dengan mendapatkan SALAM dan BAROKAH dari Alloh, sebagaimana diterangkan dalam Al Qur-aan surat Hud ayat 48:

“Dikatakan; wahai Nuh. Turunlah dengan salam dari kami, dan barokah atasmu juga atas umat-umat yang bersamamu”. (Hud : 48)

Berdasarkan kisah inilah akhirnya muncul tradisi pembuatan bubur ‘Asyuro untuk bersyukur kepada Alloh atas keselamatan dan kebaikan yang telah diterimanya.”

MAKNA BUBUR SYURO

Selain merupakan simbol syukur kepada Alloh, pembuatan bubur syuro juga sebagai media untuk mengenang perjuangan para Nabi-Nabi di bulan Muharrom yang begitu banyak, sehingga disebut ‘Hari Raya para Nabi’.

Di samping itu, bubur syuro juga ada yang rupanya merah dan putih. Dengan makna merah merupakan lambang dari keberanian dan kesabaran dalam berjuang, sedangkan putih merupakan lambang dari kebenaran dan kesucian hati. Merah juga melambangkan pesan, bahwa dalam hidup itu pasti ada ujian atau rintangan. Putih melambangkan, untuk menghadapi semua ujian hidup haruslah sabar, ikhlas serta berserah diri kepada Alloh.

Oleh karena Muharrom dipilih sebagai bulan pertama Hijriyyah, maka di awal bulan ini kita melakukan selametan agar selamat pula di 11 bulan berikutnya, bahkan Muharrom dipercaya memantulkan nuansa peribadatan dalam 1 tahun kedepan. Inilah mengapa seorang Muslim harus lebih memperhatikan diri sendiri pada bulan Muharrom, dan tidak lalai dalam bulan lainnya. (OPSHID Media)

 

Bersumber dari:

Atlas Walisongo (2016) Agus Sunyoto

Kebudayaan Jawa (1994) Koentjaraningrat

Kerajaan Champa (1981) EFEO

Wawancara kepada Achmad Atho’illah, Wali Talqin Shiddiqiyyah

Kitab Bada'iuz Zuhur, Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafiy dan murid dari Jalaludin Abdur Rahman As Suyuti (911 H).

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Sa’adatush S.