ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Bubur Syuro, Tradisi Turun Temurun dari Nabi Nuh
22 Juli 2024 17:00

Bulan Muharrom atau Syuro, bulan awal dalam penanggalan hijriyyah yang mengandung gelap dan terangnya sejarah zaman para Nabi. Bulan dimana masyarakat Islam mensyukuri ‘Hari raya para Nabi’, juga belasungkawa terhadap tragedi yang dialami cucu Rosululloh, Hasan dan Husein.
Di dalam mensyukuri dan belasungkawa terhadap sejarah di Bulan Muharrom, tentunya tak lepas dari bagaimana cara seorang Muslim memperingatinya, salah satunya adalah dengan bubur Syuro. Adapun bubur Syuro sendiri adalah bubur yang dibuat sehubungan dengan peristiwa-peristiwa di dalam bulan Syuro.
SEKILAS SEJARAH DARI ZAMAN WALI SONGO
Dalam buku Kebudayaan Jawa (1994), tradisi keagamaan muslim Jawa tampak berjalin-berkelindan dengan kebudayaan lama yang berasal dari tradisi keagamaan Kapitayan, Hindu-Buddha. Semua itu, menunjuk pada bukti-bukti terjadinya proses asimilasi dan penyerasian sosial keagamaan dalam rangka pembumian ajaran Islam di Nusantara. Jejak-jejaknya merujuk pada peran penting institusi dakwah abad ke-15 dan ke-16 yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.
Tokoh dari Negeri Champa, Raden Rahmat atau yang disebut Sunan Ampel berdakwah di Nusantara, khususnya wilayah Jawa sejak abad ke-15. Sebab pengaruh Sunan Ampel tidaklah kecil, maka kebiasaan beliau juga sangatlah berpengaruh pada tradisi keagamaan masyarakat Muslim di Jawa.
Dalam buku Kerajaan Champa (1981), disebutkan bahwa orang-orang Champa muslim memiliki kebiasaan memperingati kematian seseorang pada hari-hari tertentu. Tidak hanya itu, orang-orang Champa juga mempunyai kebiasaan untuk men-talqin orang mati, melakukan peringatan haul, membuat Bubur ‘Asyuro pada perayaan Hari ‘Asyuro, serta memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.
Dakwah Islam era Wali Songo saat itu membuat pengaruh Islam Champa mengalami proses asimilasi menggantikan tradisi keagamaan lama. Melalui proses asimilasi dengan tradisi keagamaan Hindu- Buddha yang disebut Sradha, lahirlah tradisi baru Islam yang disebut Nyradha atau Nyradan, salah satunya adalah Bubur Syuro.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur