Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

5 Tanda Kebangkitan Tashawuf Dunia

07 Juli 2024 07:00

5 Tanda Kebangkitan Tashawuf Dunia
  1. Ditetapkannya Hagia Sophia sebagai masjid.

Hagia Sophia atau Ayya Sofya dibangun di masa kekaisaran Bizantium pada tahun 571 M. Selama lebih dari 1.500 tahun lamanya, bangunan ini masih menjadi symbol kuat otoritas spiritual dan politik.

Mulanya Kekaisaran Bizantium membangun Hagia Sophia sebagai katedral untuk menyatukan gereja yang terpecah belah dan berharap bisa menguatkan kekuasaan politiknya.

Hingga di tahun 1453 M ketika Muhammad Al-Fatih (Mehmed II) menaklukan Konstantinopel, tepat tiga hari setelah penaklukan, lambang salib yang terletak di puncak Hagia Sophia diganti dengan lambang bulan sabit. Sebagai tanda bahwa katedral besar itu telah diubah fungsinya menjadi masjid.

Hagia Sophia sebagai masjid bertahan selama 481 tahun (1934 M), sampai runtuhnya kekaisaran Ottoman di awal abad ke-20. Republik Turki yang baru dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk menerapkan prinsip-prinsip sekuler. Dengan kebijakan tersebut melarang Hagia Sophia sebagai tempat ibadah, dan menjadikannya sebagai museum selama 86 tahun.

Hingga pengadilan Turki menganulir dekrit 1934 yang diprakarsai Ataturk. Setelah putusan itu, Presiden Tayyib Erdogan menandatangani keputusan presiden untuk mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid pada tahun 2020.

Keputusan tersebut menimbulkan pro-kontra masyarakat dunia. Seperti pernyataan bahwa pada awalnya Hagia Sophia tidak dibangun sebagai masjid, banyak juga yang menyatakan Hagia Sophia adalah milik kaum muslim sejak Konstantinopel berhasil ditaklukan Sultan Mehmed II.

Sejarah panjang dan letaknya yang strategis antara dua benua, Eropa dan Asia, menjadikan Masjid Hagia Sophia tempat yang penting bagi kaum muslimin dunia.

  1. Bubarnya Uni Soviet menjadi 15 negara.

Uni Soviet secara resmi berdiri pada tahun 1922 yang pada masanya adalah negara terbesar di dunia. Uni Soviet merupakan negera federasi yang memiliki paham sosialis-komunis.

Politik ekspansionisme Uni Soviet dijalankan untuk memperluas wilayah dan menyebarkan paham mereka—sosialis komunis. Sehingga Uni Soviet memiliki peran besar dalam meluasnya faham materialisme.

Namun faham komunisme bertentangan dengan semua agama. Begitupun materialisme tidak cocok dengan pri kemanusiaan—sifat haq yang membedakan manusia dengan hayawan, yakni akal dan agama.

Pada 1 Januari 1989, Ayatulloh Khomeini menulis surat kepada Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev. Dua hari kemudian, utusan Iran datang ke Moskow untuk menyampaikan surat Ayatulloh Khomeini kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

Isi surat tersebut menyampaikan kekurangan ajaran Marxisme dan mengajak Gorbachev untuk mempelajari Islam. Karena faham komunisme tidak cocok dengan dunia. Solusi yang dicari dari masalah-masalah yang dihadapi Uni Soviet dan dunia ada pada ajaran Islam bukan Komunis.

Mengutip dari buku Syech Syueb Jamali Sang Guru karya Fariduddin Attar, bahwa Ayatulloh Khomeini menyurati Gorbachev mengenai krisis keimanan Uni Soviet yang menyeret runtuhnya kemanusiaan dunia.

Tapi Gorbachev tidak percaya kalau komunis itu sudah tidak cocok dengan dunia. Balasan surat yang dikirim delapan minggu kemudian, melalui utusannya menyatakan tidak mau mempelajari Islam.

Kemudian tiga ulama’ yang sudah mencapai tingkatan Ulil Abshor berdoa kepada Alloh untuk membubarkan Uni Soviet. Mereka adalah Ayatulloh Khomeini, Syech Syueb Jamali, dan Kyai Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi. Dengan do’a yang sama, waktu yang sama, di tiga negara berbeda, delapan bulan kemudian, 26 Desember 1991, Uni Soviet pecah menjadi 15 negara.

Setelah runtuhnya negara kekuatan Komunis, tashawuf berkembang di negara pecahan tersebut. Dari 15 negara pecahan Uni Soviet, 6 diantaranya memiliki penduduk mayoritas muslim, yaitu Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgyztan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Selain negara tersebut, masyarakat muslim dalam jumlah besar juga terdapat pada negara bekas Uni Soviet yang lain.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.