Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hanya Shiddiqiyyah yang Berhasil Memancarkan Sumber Air di Pesantren At Taqwiim

03 Februari 2024 18:30

Hanya Shiddiqiyyah yang Berhasil Memancarkan Sumber Air di Pesantren At Taqwiim

BALI - Krisis air bersih merupakan krisis yang harus dihadapi oleh Pesantren At Taqwiim, Pesantren tertua di Ds. Bukit, Kec. Karangasem, Kab. Karangasem, Prov. Bali. Sejak didirikan pada tahun 1994, itulah yang menjadi agenda tahunan pada musim kemarau di At Taqwiim. Penantian sumber air bersih oleh Pesantren At Taqwiim selama 30an tahun, akhirnya berhasil diwujudkan oleh Pesantren Shiddiqiyyah. Atas Berkat Rochmat Alloh yang Maha Kuasa, di bulan Rojab yang penuh berkah ini, Shiddiqiyyah berhasil memancarkan sumber air di Pesantren At Taqwiim.

Pada perjuangan pencarian sumber air ini, Bahkan relawan Shiddiqiyyah sendiri hampir menyerah. Terlaksananya program ini bermula sejak 2017, Organisasi DHIBRA mendapatkan informasi terkait Pesantren tertua dan satu-satunya di desa tersebut. Pada saat itu pihak pesantren mengalami penghambatan pemasangan atap, karena keterbatasan biaya. Informasi tersebut disampaikan kepada Ketua Umum Dhibra, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, yang akhirnya DHIBRA menyampaikan bantuan pemasangan atap. Setelah pembangunan itu, terjadi peningkatan santri di pesantren yang awalnya 150 santri, menjadi 450.

Di sisi lain, para santri disana mengalami keterbatasan sumber air bersih untuk aktifitas sehari-hari. Hanya mengandalkan pengendapan air yang dialirkan dari air sungai ke pesantren. Akibatnya, para santri hanya mandi sehari satu kali saja. Itupun harus dijangkau menggunakan mobil, karena terletak di desa sebelah. Selain itu, dampak dari krisis air menyebabkan beberapa santri terkena penyakit kulit. Hal ini menimbulkan penurunan drastis dari para santri di pesantren At Taqwiim, kembali menjadi 150 santri.

Maka perwakilan dari organisasi lingkungan Shiddiqiyyah mensurvey lokasi tersebut untuk mengkonfirmasi terkait permasalahan krisis air di pesantren. Setelah memperoleh kebeneran, maka informasi disampaikan kepada DHIBRA pusat dan Ketua Umum Pimpinan OPSHID. Kemudian memberikan keputusan bahwa Shiddiqiyyah sepakat untuk mengadakan santunan sumber air.

Pengadaan air bersih dimulai pada 5 Rojab 1444 H, yang juga melibatkan seluruh Organisasi Shiddiqiyyah yang ada di Bali. Pelaksana program ini dari jiwa-jiwa OPSHID yang berjumah 12 orang. Santunan sumber air bersih dilakukan dengan pengeboran sumur. Namun tak sesederhana kedengarannya, menurut Pak Taufiqurrohman selaku perwakilan DPP OPSHID, proses pengeboran sumur sangat panjang.

Mengingat letak pesantren yang berada di dataran tinggi, dengan kondisi tanah dan batu yang berbeda daripada umumnya, menjadi faktor proses pengeboran memakan waktu yang tak sedikit. Saat pengeboran pertama dilakukan di kedalaman 60 M, mata bor putus karena terdapat batu di dalam sumur. Pengeboran berkali-kali terhambat karena batu yang menghalangi. Dengan patahnya mata bor, dilakukan pergeseran titik pengeboran sumur. Yang mana, teman-teman OPSHID harus memulai lagi dari awal.

“Patahnya satu kali, tapi habisnya mata bor ini yang tidak wajar. Biasanya kita mengebor tidak pernah habis, ini habis sampai 4 kali. Dan itu berganti-ganti spek yang berbeda sesuai dengan kebutuhan menghadapi jenis batunya, dan harganya tidak murah”, terang Pak Taufiq.

Kedalaman sumur akan dicapai pada 120 M. Akan tetapi, akibat kegagalan saat proses casing sumur bor untuk kedalaman tersebut. Maka, hanya bisa dicapai di kedalaman 119 M. Salah satu faktor lainnya, keterangan Bpk Taufik, “Karena di 60 M itu airnya hilang. Harusnya air bor itu masuk, tapi baru ini kita ngebor di kedalaman 60 airnya hilang”.

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Sa’adatush S.