27 Juni 2025 10:00
Kunjungan tersebut juga dilatarbelakangi oleh keprihatinan Resi Ida Agung atas kondisi bangsa saat ini, yang menurutnya tengah menghadapi krisis kebangsaan.
Menaruh harapan besar dari pertemuan ini agar menjadi ikhtiar bersama demi bangsa Indonesia, “Saya datang ke sini untuk bertemu dengan beliau dan teman-teman (warga Shiddiqiyyah), karena saat ini kita memang perlu tenaga yang besar, perlu gelora yang besar, untuk menguatkan kembali semangat kebangsaan ini,” lanjutnya.
Kyai Mukhtar juga menyampaikan dawuh tentang pentingnya cinta tanah air dan jati diri bangsa dalam menjaga keutuhan negara.
“Kalau tidak ada cinta tanah air yang sejati, robohlah negara ini. Dan kalau sudah kembali kepada jati diri bangsa, selesai,” pitutur luhur Kyai Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi.
Di tengah pertemuan yang berlangsung, Resi Ida Agung menyampaikan sejumlah misi kebangsaan yang ia nilai penting untuk segera diwujudkan dalam bentuk deklarasi, yang direncanakan akan digelar di Istana Tapak Sirih, Bali.
Ia menekankan tiga hal utama, yaitu:
1. Memperjelas asal-usul Bung Karno sebagai tokoh yang lahir di Ploso, Jombang.
2. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza.
3. Menegakkan nilai-nilai Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Tak hanya itu, ia juga menyatakan sepakat bahwa 17 Agustus Kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan Republik Indonesia dan 18 Agustus Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Resi Ida Agung, seluruh gagasan itu bersumber dari ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, yang ingin ia amalkan di tengah masyarakat Bali. (OPSHID Media)