ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Resi Hindu Bali Sowan Kyai Mukhtar Demi Misi Kebangsaan
27 Juni 2025 10:00

JOMBANG - Organisasi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) melakukan kunjungan ke Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Indonesia, Losari, Ploso – Jombang, pada Kamis lalu (26/05/2025).
Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, bersama istri merupakan satu-satunya resi Hindu berdarah Sunda asal Jawa Barat yang kini menetap tugas keorganisasian di Bali, jabatan di organisasi PHDI sebagai Sekretaris.
Resi Ida Agung datang ke pesantren didampingi oleh lima anggota dari Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) dan Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.
Pertemuan berlangsung pada pagi hari di Padepokan Kaseban Jati Kasempurnaan bangunan agung di area pesantren Shiddiqiyyah.
Kedatangan Resi Ida Agung diterima langsung oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Muthi. Ia menyampaikan keinginannya untuk belajar wawasan kebangsaan kepada Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Bahkan, ia menganggapnya sebagai panutan guru besar bangsa.
"Bagi saya, ini kewajiban untuk belajar kepada guru bangsa, karena saya menganggap beliau sebagai guru bangsa. Kita ini sebenarnya butuh figur, bukan sekadar tokoh. Karena tokoh di Indonesia sudah banyak, sedangkan panutan—itulah yang sulit ditemukan di Indonesia".
"Ketika beliau hadir sebagai panutan, saya langsung datang ke sini, menghadap panutan. Panutan bangsa, guru besar bangsa. Ide menganggap beliau bukan hanya seorang kyai, tapi juga guru besar bangsa", ujarnya.
Resi Ida juga menyatakan kekagumannya terhadap Kyai Mukhtar yang ia sebut sebagai kyai lingsir. Yang mana meski telah mencapai usia 96 tahun, beliau dinilai masih memiliki semangat luar biasa, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai cinta tanah air.
"Meski telah sepuh, beliau memiliki sikap kebangsaan yang luar biasa. Kita sebagai generasi muda seharusnya banyak belajar dari beliau (Kyai Mukhtar -Red). Dalam tradisi Bali, orang seperti beliau disebut nak lingsir atau plingsir, yaitu sosok yang sudah menapaki tahap Dwijati, salah satu fase penting dalam ajaran Hindu".
"Pak Kyai ini kita sebut sebagai kyai lingsir, kebanggaaan kita bahwa ada kyai yang dituakan. Sebutan lingsir itu menggambarkan seseorang yang telah melampaui keinginan duniawi", tuturnya.
Penulis: Jauharotun Naaja
Editor: Nuraida
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin