Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kiriman Pembaca

Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia

· 3 menit baca

Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia

Satu bangsa tidak berarti satu identitas

Ada perbedaan antara persatuan dan penyeragaman. Penyeragaman menuntut orang menjadi sama. Persatuan memungkinkan orang tetap berbeda, tetapi memiliki komitmen terhadap kehidupan bersama.

Seseorang dapat menjadi orang Jawa, Batak, Bugis, Minangkabau, Bali, atau Papua tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya. Bahasa daerah tetap dapat diwariskan, tradisi lokal tetap dapat dijalankan, dan keyakinan agama tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bahasa Indonesia berperan sebagai jembatan komunikasi bagi masyarakat yang tidak selalu menggunakan bahasa ibu yang sama. Ikrar satu bangsa memberi kerangka untuk memandang warga dari daerah lain sebagai sesama bagian dari Indonesia.

Lagu Indonesia Raya memberi persatuan tersebut dimensi emosional. Ketika dinyanyikan bersama, masyarakat dengan latar belakang berbeda memiliki simbol kebangsaan yang sama. Ikrar merumuskan gagasan, sedangkan lagu menghidupkan perasaan kebersamaan.

PERSATUAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Pertanyaannya, apakah persatuan cukup dirawat melalui upacara, bendera, dan lagu kebangsaan? Menurut penulis, tidak.

Persatuan juga diuji melalui cara negara memperlakukan warganya. Apakah kesempatan memperoleh pendidikan cukup terbuka? Apakah masyarakat sudah memiliki hunian yang layak? Apakah masyarakat di berbagai wilayah dapat mengakses layanan publik dengan layak? Apakah warga yang berbeda agama, bahasa, atau etnis memperoleh perlakuan yang setara?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengurangi makna Sumpah Pemuda. Menurut penulis, semuanya menunjukkan bahwa ikrar kebangsaan membawa tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengucapkannya. Jika Indonesia adalah proyek bersama, setiap warga perlu merasa memiliki tempat di dalamnya.

WARISAN 1928 YANG BELUM SELESAI

Sumpah Pemuda sering diperingati sebagai kisah keberhasilan persatuan. Namun, menurut penulis, ia juga pengingat bahwa persatuan membutuhkan pilihan dan usaha yang terus diperbarui.

Indonesia menjadi satu bukan karena seluruh perbedaannya menghilang, melainkan karena perbedaan itu tidak dijadikan alasan untuk menolak kehidupan bersama.

Satu tanah air tidak berarti satu kampung. Satu bangsa tidak berarti satu suku. Satu bahasa persatuan tidak berarti satu bahasa ibu.

Menurut penulis, selama komitmen untuk menjadi satu tanpa harus menjadi sama itu dirawat dalam kehidupan nyata, Sumpah Pemuda akan tetap lebih dari sekadar sejarah. Ia menjadi pekerjaan setiap generasi.

Penulis: Windu Haribadi 

=========

Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:

1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.

Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net

Tulisan ini merupakan kiriman pembaca. Isi dan pendapat di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.