Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Air Mata di Balik Rumah Papan: Kisah Ibu Carning dari Desa Semanding - Tuban

27 Oktober 2025 06:50

Air Mata di Balik Rumah Papan: Kisah Ibu Carning dari Desa Semanding - Tuban

Tuban - Di Desa Semanding yang tenang di pelosok Tuban menyimpan kisah sederhana namun sarat makna. Tentang   perjuangan hidup, kesabaran, dan keajaiban doa. Di salah satu sudut desa itu berdirilah rumah berukuran 8x8 meter, terbuat dari papan-papan tua yang lapuk dan genting reyot.

Bila hujan turun, air menetes di setiap sudut atap, membasahi lantai tanah dan perabot seadanya. Rumah itu milik Ibu Carning, perempuan kelahiran 1983 yang kini menjalani hidupnya dengan penuh. keteguhan hati, meski ujian datang silih berganti.

Ibu Carning adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Seluruh saudaranya juga tinggal tak jauh dari rumahnya di Desa Semanding. Hidup mereka sederhana, menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil bumi dan kerja harian di sawah.

Sehari-hari, Ibu Carning bekerja sebagai buruh tani lepas. Ia membantu menanam padi, menanam jagung, atau sekadar memotong rumput di sawah milik orang lain. Kalau ada yang ngajak, ya saya ikut,” tuturnya pelan. Tapi kalau ngga ada yang mbutuh, ya di rumah aja, ngurus rumah.”

Pekerjaannya tak menentu. Terkadang ia bekerja hanya beberapa hari dalam sebulan, tergantung musim tanam. Upahnya pun tak seberapa, hanya sekitar Rp80.000 hingga Rp85.000 per hari, itupun jika ada panggilan. Di minggu-minggu ketika ladang belum siap ditanami, ia lebih banyak di rumah, berdoa agar ada pekerjaan yang datang. Seperti minggu ini nggak ada tanduran apa-apa, saya di rumah saja mbak.ujarnya lirih.

LUKA DAN KETEGUHAN SEORANG IBU

Sekitar lima tahun lalu, kehidupan rumah tangganya runtuh. Ia dan suaminya berpisah. Sejak itu, sang suami tinggal di Tuban Kota bersama istri sirinya. “Misal punya dana cerai secara sah, mungkin sudah saya urus. Tapi karena gak ada, ya sudah pasrah mawon tinggal sendiri-sendiri ucapnya pasrah. Kini, Ibu Carning menjalani hari-hari sendirian di rumah papan bersama kenangan dan harapan yang tersisa.

Meskipun hidup sendiri, ia tidak benar-benar sendiri. Ia masih memiliki seorang anak laki-laki bernama Feri, yang menjadi tumpuan hatinya. Feri, yang kini berusia 22 tahun, bekerja di Surabaya sejak Januari 2024. Awalnya ia bekerja dengan anaknya di Surabaya namun sekarang putranya sendiri yang masih bertahan bekerja di Surabaya.

Feri jarang pulang, biasanya hanya sebulan sekali, karena harus bekerja keras untuk melunasi hutang keluarga. Feri itu kerja di Surabaya, katanya biar bisa bantu bayar utang,” ujar Ibu Carning dengan mata berkaca-kaca.

Namun, di balik kesederhanaannya, Ibu Carning menyimpan ketulusan yang besar. Ia tidak pernah mengeluh. Ia percaya bahwa setiap hari seberapapun sulitnya, tetap membawa rezeki dari Alloh Ta’ala. Dari penghasilan yang tidak seberapa tersebut, ia sisihkan sebagian untuk membeli batu kumbung, dengan harapan jika sudah terkumpul akan dibuat untuk membangun rumah. Satu persatu batu kumbung itu ia kumpulkan, tersusun rapi disekitar rumahnya.

RUMAH PAPAN YANG HAMPIR RUNTUH

IMG_1155.jpeg (707 KB)
Rumah Sebelum Dibongkar

Rumah yang ditempati Ibu Carning dibangun di atas tanah miliknya sendiri. Ia mulai menempati sejak tahun 2015, setelah sebelumnya tinggal bersama kakaknya yang rumahnya masih berada di sekitar desa yang sama. Namun kondisi rumah itu sangat memprihatinkan. Papan-papan dindingnya mulai rapuh dimakan usia, dan genting di atap sudah miring di sana-sini. Setiap kali hujan datang, air menetes deras dari langit-langit, membasahi tempat tidur dan tikar yang menjadi alasnya tidur. “Kalau hujan deres, yo mesti banjir mbak, bocor ngendi-ngendi,” ujarnya sambil menunjuk ke langit-langit rumah yang bolong.

Meski begitu, rumah itu tetap ia rawat dengan sepenuh hati. Baginya, rumah papan itu bukan sekadar tempat berteduh, tapi juga saksi dari segala doa, air mata, dan perjuangan hidupnya.

Penulis: Kholidah

Editor: Nuraida