Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Sugiyem: Aku Cinta Suamiku, Kusayangi Juga Istrinya

02 November 2024 17:00

Sugiyem: Aku Cinta Suamiku, Kusayangi Juga Istrinya

DUA NENEK

Anggun dan Manda sudah menganggap baik Suparni maupun Sugiyem sebagai nenek mereka. Meskipun secara nasab, Sugiyem bukan nenek mereka. Sebaliknya, Sugiyem pun merawat Anggun dan Manda seperti cucunya sendiri.

“Sejak kecil, mereka memang sudah ikut saya. Dulu waktu masih umur 2 tahun, diajak main ke sini sama ibunya, ya ndak mau pulang. ‘Moh, aku sama mbah saja’, begitu katanya”, tutur Sugiyem.

Kebutuhan sehari-hari mereka berasal dari hasil berjualan jajan dan minuman dingin dari warung kecil mereka. Selain itu, Niken yang jadi pekerja di Banyumanik, juga rutin mengirim uang bulanan untuk biaya sekolah dan perawatan anak-anaknya. Selain itu, mereka harus serba menghemat. 

Pendapatan kotor yang mereka dapatkan dari warung berkisar 40 ribu per hari, tergantung ramai atau tidaknya pembeli. Di saat sepi, penjualan hanya meraup sekitar 20 ribu, tetapi saat ramai bisa mencapai 100 ribu. Itupun, belum dihitung dari jajan-jajan yang diambil Anggun dan Manda.

“Ya seperti itu mereka (Anggun dan Manda—red), kalau ada bocah yang beli ya iri. Kalau bocahnya beli 3 ribu, mereka ambil jajan 3 ribu. Ya dimaklumi saja anak-anak”, kata Suparni sambil bercanda.

“Kalau seperti itu terus ya kapan untungnya”, Sugiyem menimpali sambil tertawa. Kedua neneknya itu memang sulit untuk menolak keinginan Anggun dan Manda.

Suatu hari di tahun 2019 Suparni jatuh sakit. Awalnya, kakinya serasa panas dan kesemutan, lalu tidak bisa berjalan. Berbagai macam pengobatan telah ditempuh, namun bukannya sembuh, justru setelahnya malah sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak. Suparni lumpuh total.

Suparni merasa hampa. Ia merasa tidak berguna lagi dan hanya menjadi beban bagi keluarga. Putus asa tak sanggup menahan sakit, ia bahkan terpikir untuk mengambil nyawanya sendiri.

“Apa dosa saya hingga diberi penyakit seperti ini?”, tutur Suparni, menceritakan kesedihannya dulu, “saya sudah putus asa, ndak bisa apa-apa. Sudah ndak selera makan. Ada makanan ya saya makan, ndak ada makanan ya ndak minta. Bahkan pernah bodrex 1 strip saya teguk semuanya, tapi sama Gusti Alloh belum diambil nyawa saya”.

Di tengah keadaannya yang lumpuh itu, rasa sakitnya harus bertambah disebabkan kondisi rumah yang kian hari makin tidak layak dihuni. Hingga di suatu waktu, genteng rumah ambruk dan menimpa Suparni yang tidak bisa bergerak di tempat tidur. Kepalanya terluka, ia terguling ke bawah dipan dan tak sadarkan diri. Suparni harus dirawat selama seminggu, dan gentengnya yang ambruk dibangun ulang menggunakan galvalum oleh warga sekitar.

IMG_5874.webp (626 KB)
Rumah Suparni dan Sugiyem dengan atap galvalum yang direnovasi oleh warga sekitar

Di samping Suparni yang putus asa dalam melewati semua badai itu, ada Sugiyem yang senantiasa sabar merawat dan membantu Suparni makan, minum, dan melakukan aktivitas lainnya dalam keadaan lumpuh. Selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Sugiyem juga harus mengurus toko dan merawat Anggun dan Manda. Sugiyem lakukan semuanya sendiri selama 5 tahun, memastikan tiap anggota keluarga tetap utuh kewarasannya dan bisa makan keesokan harinya.

Suparni terkadang merasa bersalah karena tidak bisa membantu Sugiyem. “Tapi ya bagaimana, keadaan saya sudah tidak bisa apa-apa”, ujar Suparni sedih.

Ketika ditanya mengenai kerukunan mereka, mereka hanya tertawa. Seolah tidak ada hal luar biasa dalam keseharian mereka hidup dalam 1 rumah. “Ya memang sudah seperti ini sejak dulu”, ucap Sugiyem sambil tersenyum.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida