ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
OPSHID Terjang Rintangan Demi Sukseskan Rumah Syukur, KODIM Sinergikan Positif
15 Oktober 2024 15:45
Pemilihan lokasi Rumah Syukur di lereng Gunung Semeru bukan tanpa alasan. Setelah menjelajahi Probolinggo tidak menemukan penerima yang sesuai kriteria, Supriyo akhirnya diarahkan untuk survey rumah di lereng gunung. Mayoritas penduduk di sana penganut Hindu suku Tengger. Termasuk Bu Uit dan Sudarsono, penerima Rumah Syukur Probolinggo yang tepat sasaran. Simak kisah Bu Uit di OPSHIDMedia.net: Uit dan Sudarsono: Rochmat Tuhan Tidak Pernah Pandang Agama
Supriyo menelusuri kondisi rumah, atap rumah hanya terbuat dari asbes tanpa plafon, tembok bata setinggi satu meter, sisanya dari triplek yang sudah rapuh. Ia juga menggali informasi sumber penghasilan Sudarsono sebagai tukang bakso keliling, "Saya tanya langsung ke bosnya, penghasilannya tidak menentu hanya 80-100 ribu sehari. Memang layak menerima bantuan ini, kalau dilihat dari ekonomi dan tempat tinggalnya".
Setelah musyawarah mengenai hasil survet tersebut, beberapa hari kemudian tim OPSHID mendatangi Bu Uit dengan kabar gembira.
Sempat ragu-ragu, Tim OPSHID meyakinkan Bu Uit, "Saya jelaskan kalau rumahnya mau dibangun, ibu tidak usah repot menyiapkan apapun. Kami bangun rumah dari nol hingga selesai, sekitar sebulan. Jangan khawatir, Ibu tinggal terima kunci saja". Mendengar itu, Bu Uit pun langsung bersedia menerima rumah.

Tanah rumah Bu Uit seluas 6 x 12 m, sementara bangunan Rumah Syukur berukuran 5 x 8 m. Rumah dirancang kokoh, dengan jendela paten untuk menjaga suhu stabil di pegunungan yang dingin. “Kami pakai 12 sepatu bangunan yang kuat dan memadai untuk menopang struktur rumah. Jadi bangunannya pasti kuat. Setelah selesai, insyaAllah rumah ini akan menghangatkan,” sebut Supriyo.
Saat warga desa mengetahui ada program pesantren yang memberikan bantuan kepada agama lain, mereka terheran. Umumnya, pesantren fokus pada nilai keagamaan, namun Shiddiqiyyah mengajarkan untuk beragama dan bernegara. Supriyo bercerita, "Masyarakat di sini bertanya-tanya, ‘Kenapa pesantren membangun untuk orang Hindu?’. Mereka juga bingung kok bisa pesantren bangun rumah? Saya jelaskan, ini program sosial rutin Shiddiqiyyah. Tidak memandang agama, yang penting mereka layak dibantu”.

Riono salah satu warga desa menyampaikan, “Sangat berterima kasih kepada Shiddiqiyah, progam bantuan untuk warga sini. Kalau ada lagi kita tetap ikut andil, karena saya senang ikut bantu, bisa membahagiakan orang”.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang