ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Miftakhul: Jualan Leker dan Aktif di Organisasi, Akhirnya Punya Rumah Layak Huni
28 September 2025 12:08
Lamongan – Kepedulian tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang, justru dari mereka yang serba terbatas tulus untuk berbagi, sekecil apa pun yang mereka miliki.
Miftakhul Bukhori (38), anggota Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, hidup sederhana, namun semangatnya bisa dibilang luar biasa sebagai pelayan kemanusiaan.
Dalam kiprahnya, OPSHID memiliki banyak kegiatan kemanusiaan, seperti santunan, dan membangun puluhan rumah layak huni yang diberikan secara gratis kepada mereka yang belum memiliki hunian dengan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
OPSHID juga merupakan organisasi mandiri, yang tidak pernah mengajukan proposal kepada pemerintah, lembaga sosial, maupun partai politik. Semua dilakukan dari hasil gotong royong anggota sendiri.
Banyak anggota OPSHID berasal dari kalangan sederhana. Sering kali mereka sendiri kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, hal itu tidak membuat mereka berhenti peduli. Justru karena pernah merasakan sulit, rasa empati makin kuat. Mereka tak sampai hati melihat orang lain hidup dalam kesulitan.
Miftakhul Bukhori adalah satu diantaranya. Kesehariannya berjualan leker di sekolah-sekolah dan acara masyarakat. Penghasilannya sekedar cukup untuk kebutuhan harian istri dan kedua anaknya, tetapi tidak sampai membawa perubahan signifikan bagi kondisi ekonomi keluarganya. Meski demikian, ia tetap mengusahakan hadir dalam setiap kegiatan OPSHID, meski kadang harus menahan rasa sungkan karena tidak memiliki cukup uang untuk sekadar membeli bensin.
Momentum Sumpah Pemuda kali ini menjadi saksi kepedulian OPSHID FKYME - DPD Lamongan yang membangun dan menyerahkan secara gratis sebuah rumah kepada salah satu anggotanya, Miftakhul Bukhori.
Sebelumnya, Bukhori tinggal di rumah kontrakan setelah beberapa waktu menumpang di kediaman mertua. Ia pernah mendapat sebidang tanah pemberian orang tua, namun belum sempat mendirikan rumah di atasnya.
Melihat kondisi tersebut, pengurus OPSHID memutuskan untuk membangun rumah layak huni bagi Bukhori, agar ia dan keluarganya bisa tinggal lebih tenang serta tetap aktif dalam kegiatan organisasi.
Semangat gotong-royong OPSHID menjadi pengingat kuat bagi kita semua. Keterbatasan bukanlah halangan untuk menolong, justru empati yang lahir dari pengalaman sulit adalah modal terbesar untuk menciptakan perubahan dan kesejahteraan bersama. (OPSHID Media)
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang