Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Opini & Esai

Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945

· 4 menit baca

Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945

Pemahaman ini sejalan dengan pandangan KH. Hasyim Asy’ari, yang menempatkan santri bukan hanya sebagai pengamal ilmu agama, tetapi memandang santri sebagai individu yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga aktif bertarung dalam perjuangan dan pengembangan masyarakat. Hal ini mempertegas bahwa jiwa kesantrian tidak terpisahkan dari kesadaran berbangsa.

Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, yang dikutip oleh Soewardi Soerjaningrat, "Het Javaansche Nationalisme in de Indische Beweging (penindasan masa penjajahan melahirkan pemahaman mendalam bagi rakyat bahwa Islam identik dengan kebangsaan dan nasionalisme -red)". Nilai-nilai Iman, Islam, dan Ihsan inilah yang ditanamkan di pesantren mewujud dalam bentuk rasa cinta tanah air dan tanggung jawab sosial. 

Peran pesantren sebagai benteng negara tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik di masa pra-kemerdekaan, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas di era kontemporer. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Abu Hanifah dalam buku Tjita-tjita Perjuangan, bahwa lembaga seperti thoriqoh, pesantren, dan langgar sejak dahulu berperan sebagai benteng pertahanan terhadap banjirnya pemikiran luar maupun modernisme ekstrem yang mengikis nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. Pesantren menjaga etika, tata krama, dan moralitas masyarakat agar tidak tergerus oleh ketidakpastian zaman.

Untuk menjadi benteng negara yang tangguh, pesantren modern mentransformasikan sistem pendidikannya tanpa menghilangkan jati diri. Selain memperdalam Al Qur-aan dan hadits, pendidikan Shiddiqiyyah (THGB dan IMQ)—memperlengkapi santri dengan ilmu umum, seperti: Jurnalistik, Kewirausahaan, ilmu hukum, Ilmu komunikasi, teknologi, kebangsaan, dan kesehatan.

Penguasaan ilmu kehidupan ini bertujuan agar santri memiliki kecakapan hidup (life skills), berpandangan luas, serta siap menjadi pelopor dan pelindung masyarakat di era globalisasi.

Pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama secara doktrinal, melainkan benteng pertahanan negara yang multidimensional. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, pesantren terbukti konsisten membentengi bangsa dari penjajahan fisik, dekadensi moral, krisis sosial, hingga penetrasi ideologi yang merusak eksistensi NKRI. Melalui pengamalan nilai-nilai keagamaan, wawasan kebangsaan, serta penguasaan sains dan keterampilan modern, santri tetap hadir sebagai pengawal utama keutuhan dan kedaulatan negara. (OPSHID Media)

Tulisan ini merupakan opini/esai penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Nuraida