Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf

30 September 2026 09:00

Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf

RUMI DALAM DUNIA YANG PENUH PERGOLAKAN

Rumi hidup pada masa perubahan sejarah yang besar. Keluarganya sendiri mengalami perjalanan dari kawasan Balkh menuju Anatolia. Bahwa ketika ancaman Mongol mendekat, keluarga Rumi bergerak ke arah barat dan akhirnya menetap di Konya setelah ayahnya mendapat undangan untuk mengajar dan berdakwah di sana. Islam kala itu didominasi oleh mazhab fiqih (terutama Hanafi di Anatolia), namun tashawwuf juga berkembang luas melalui adanya Thoriqoh-Thoriqoh.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Rumi tidak terpisah dari realitas sosial dan politik zamannya.

Beliau hidup ketika masyarakat mengalami peperangan, perpindahan penduduk, perubahan kekuasaan, dan ketidakpastian. Di tengah keadaan tersebut, Rumi mengembangkan bahasa spiritual yang tidak berpusat pada kekerasan, tetapi pada transformasi manusia dari dalam. Yakni dengan konsep kembali pada jati diri manusia seutuhnya sebagai kholifah di bumi, tersebut dalam Al Baqoroh QS 2:30 bunyinya: 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi.'”

Dalam pemikiran Rumi, manusia tidak hanya dituntut untuk mengetahui Tuhan melalui akal, tetapi juga mengalami perubahan batin. Cinta menjadi salah satu jalan utama dalam proses tersebut.

Karena itu, cinta dalam pemikiran Rumi bukan hanya cinta dalam pengertian emosional. Cinta merupakan kekuatan spiritual yang mengarahkan manusia menuju sumber keberadaannya.

 

SEMA: GERAK SPIRITUAL MENUJU TUHAN DAN PESAN PERDAMAIAN

Pada Masa Abad 13 kondisi sosial budaya dan masyarakatnya mengalami krisis moral dan spiritual karena peperangan dan keruntuhan tatanan sosial.

Dan tumbuhnya tashawwuf ketika itu digunakan sebagai jalan pelarian batin. Dimana banyak manusia yang mencari kedamaian melalui jalan Thoriqoh dengan dzikir, musik, syair. Seni musik dan syair Persia sedang berkembang pesat, sehingga ketika Rumi mengekspresikan dzikir dalam bentuk gerakan berputar diiringi musik, hal itu mendapat tempat di hati banyak orang.

Salah satu simbol paling terkenal dari warisan Rumi adalah Sema. Di luar lingkungan tradisi sufi, Sema sering disebut sebagai “tarian sufi” atau Whirling Dervishes. 

Tarian sufi menjadi simbol kedamaian dan keteguhan spiritual di tengah kehancuran akibat perang. Murid-murid Rumi mengembangkan praktik ini, yang kemudian dikenal sebagai Mevlevi Order atau Thoriqoh Maulawiyah. Kemudian kepemimpinan dan sistem tarekat ini dilanjutkan oleh putra Rumi, yaitu Sultan Veled bersama Husameddin Chelebi.

UNESCO menjelaskan bahwa para pelaku tradisi Mevlevi memperoleh pendidikan yang panjang. Mereka mempelajari etika, tata perilaku, keyakinan, doa, musik keagamaan, puisi, serta gerakan Sema. Dengan demikian, Sema bukan sekadar pertunjukan tari.

Gerakan berputar menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang mengarahkan perhatian seseorang kepada Tuhan. Secara mendalam, tari sufi melambangkan:

  • Simbol Perjalanan Spiritual: Putaran (whirling) melukiskan gerak kosmos: planet, bintang, dan atom yang semuanya berputar. Gerakan itu menggambarkan manusia yang meninggalkan ego atau nafsu lalu berputar menuju kesatuan dengan Sang Pencipta.
  • Simbol Cinta Ilahi: Tarian dilakukan dengan penuh cinta dan dzikir, menjadi simbol kerinduan jiwa untuk bertemu Alloh. Musik dan syair Rumi yang mengiringi dan menguatkan cinta suci, manunggalnya cinta hamba dan Alloh Ta’ala.
  • Simbol Harmoni dan Kedamaian: Gerakan melingkar menekankan kesatuan seluruh makhluk dalam harmoni yang menunjukkan adanya kedamaian, persatuan, dan toleransi di antara manusia.
  • Simbol Kehidupan dan Kematian: Tangan kanan menengadah ke langit adalah tanda menerima berkah Ilahi, tangan kiri menghadap bumi untuk menyalurkan kepada sesama makhluq Alloh Ta’ala. Ini menjadi simbol keseimbangan; manusia hidup untuk menerima dari Alloh dan memberi kepada makhluk.

Di akhir bagian tarian Sema, setelah para penari selesai berputar dan duduk kembali, seorang Qori’ (pembaca Al-Qur'an) biasanya akan melantunkan Al-Baqoroh QS 2:115 yang berbunyi :

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Dan milik Alloh-lah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Alloh. Sungguh, Alloh Mahaluas, Maha Mengetahui."

Ayat ini dipilih karena sangat selaras dengan esensi gerakan berputar (whirling). Penari sufi berputar ke segala arah untuk menegaskan bahwa ke mana pun mata dan tubuh mereka menghadap, mereka hanya melihat keagungan dan kehadiran Alloh Ta'ala.

Gagasan ini memiliki relevansi khusus ketika ditempatkan dalam konteks sejarah Rumi. Rumi hidup pada masa konflik, tetapi respons spiritualnya bukanlah memperbesar kebencian. Ia justru berbicara tentang cinta dan perubahan batin. Di sinilah Sema dapat dibaca sebagai simbol perdamaian. Perdamaian tidak hanya berarti berhentinya peperangan secara fisik. Perdamaian juga menyangkut keadaan batin manusia dengan kemampuan mengendalikan amarah, mengurangi kesombongan, menghormati sesama, dan menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Dari sudut pandang tersebut, penghilangan ego bukan berarti menghilangkan kepribadian manusia, melainkan mengurangi dominasi kesombongan dan kepentingan diri yang dapat menyebabkan konflik.

Sema kemudian menjadi simbol perjalanan manusia menuju keseimbangan: tubuh bergerak, musik mengalun, puisi dilantunkan, sementara hati diarahkan kepada Tuhan.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.