ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
28 September 2026 08:00
Dalam ajaran yang disampaikan Mursyid, sebaik-baik manusia adalah yang aktivitas hidupnya memberikan manfaat kepada sesama. Manfaat itu dapat diwujudkan melalui ucapan, pikiran, aktivitas, maupun materi.
Rumah Syukur menjadi salah satu bentuk nyata dari prinsip tersebut. Pembangunan rumah ditujukan untuk memberikan manfaat kepada mereka yang membutuhkan, sekaligus mengingatkan bahwa ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi juga tercermin dalam kepedulian terhadap sesama.
Nilai kebangsaan merupakan bagian tak terpisahkan dari makna Rumah Syukur. Peristiwa Sumpah Pemuda, lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan sejarah perjuangan kemerdekaan dimaknai sebagai pelajaran berharga untuk terus memelihara semangat kebangsaan dan melestarikannya.
Karena itu, Rumah Syukur diharapkan tidak berhenti sebagai bangunan. Rumah ini menjadi warisan yang dapat dijaga oleh penerima dan keturunannya, sekaligus menjadi sarana untuk meneruskan nilai keimanan, kemanusiaan, kemanfaatan, dan kecintaan kepada tanah air.
Seluruh kegiatan sosial kemanusiaan yang dijalankan oleh OPSHID selalu bersumber dari petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, sebagaimana dawuh Syekh Mukhtar: “Sebaik-baik manusia adalah yang aktivitas hidupnya membawa manfaat bagi sesama.”
Manfaat tersebut menjadi cerminan dari ibadah yang diterima—baik melalui ucapan, gagasan, perbuatan, hingga harta yang memberi dampak bagi diri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara.
Sebab, kebaikan yang bermanfaat ibarat air yang terus menghidupkan, sementara hal yang sia-sia bagaikan buih yang cepat sirna tanpa bekas. Oleh karena itu, setiap langkah perjuangan ini diharapkan terus menjadi sumber kebaikan abadi yang membawa berkah bagi bangsa Indonesia.
FAKTA BICARA MELALUI RUMAH SYUKUR
Bagi Shiddiqiyyah, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan yang dapat dirasakan manfaatnya. Demikian pula dengan rasa cinta tanah air. Tidak cukup hanya dinyatakan melalui kata-kata, tetapi perlu dibuktikan melalui tindakan nyata untuk kemanfaatan bangsa dan sesama.
Rumah yang dibangun melalui program Rumah Syukur pun tidak diposisikan sekadar sebagai bangunan tempat tinggal. Ada kriteria yang harus dipenuhi agar rumah menjadi hunian yang aman, nyaman, dan layak, sekaligus memiliki unsur keindahan. Program penyediaan rumah gratis bagi masyarakat membutuhkan sendiri bukan hal baru. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor swasta juga telah melakukannya. Namun dengan rumah syukur terdapat perbedaan dalam cara program tersebut dijalankan.
Seluruh pembiayaan dan tenaga pembangunan dihimpun melalui iuran serta gotong royong murid Shiddiqiyyah. Tidak ada pengajuan proposal kepada pemerintah maupun lembaga swasta sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Dengan pola tersebut, Rumah Syukur bertumpu pada partisipasi warga Shiddiqiyyah sendiri, baik dalam menyediakan dana maupun tenaga.
Hingga 2026, lebih dari 1.000 unit Rumah Syukur telah dibangun dan diserahkan kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai pelosok Indonesia. Pada tahun ini, pembangunan Rumah Syukur dalam rangka Tasyakkuran Sumpah Pemuda serta Hari Lahir Lagu Kebangsaan Indonesia Raya juga sedang berlangsung.
Di sinilah pembangunan rumah menjadi lebih dari sekadar pembangunan fisik. Apa yang sebelumnya disampaikan sebagai rasa syukur dan cinta tanah air diterjemahkan ke dalam sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan manfaatnya.
Silaturrochmi juga dijaga secara berkala, setidaknya sekali dalam setahun, bertepatan dengan hari raya masing-masing penerima. Diantaranya, dengan shillaturrochmi kepada penerima rumah syukur tiap hari raya Idul fitri bagi keluarga muslim dan pada momen Natal bagi keluarga kristiani. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan rumah yang telah dibangun benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan penghuninya.
Kunjungan tersebut bukan sekadar menjaga hubungan baik. Di dalamnya terdapat upaya untuk mengetahui kembali kondisi rumah sekaligus kehidupan keluarga penerima setelah menempati hunian yang telah dibangun. Dengan demikian, keberadaan Rumah Syukur tidak berhenti pada selesainya pembangunan fisik, tetapi dilanjutkan dengan perhatian terhadap keberlanjutan manfaatnya.
Pemeliharaan dan pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar rumah tetap layak dihuni serta penerima manfaat dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman dan tenteram. Karena itu, yang hendak dipelihara bukan hanya bangunan, tetapi juga harkat dan martabat manusia yang menempatinya.
Dengan demikian, Rumah Syukur menjadi salah satu cara Shiddiqiyyah menerjemahkan petunjuk mursyidnya ke dalam tindakan. Syukur tidak berhenti pada ucapan, cinta tanah air tidak berhenti pada pernyataan. Keduanya diupayakan hadir dalam bentuk rumah yang dibangun, diserahkan, dirawat, dan terus dijaga manfaatnya bagi yang berhak menerima. (OPSHID MEDIA)
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- Setetes Bakti untuk Bangsa dan Negara: Rumah Baru dari Pemuda Shiddiqiyyah Sidoarjo
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!
- Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU