Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan

28 September 2026 08:00

Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan

“Membangun rumah adalah peristiwa monumental yang menandai tegaknya jiwa.”

- Ketua Umum OPSHID FKYME.

Sebagaimana tujuan utama proklamasi kemerdekaan dan berdirinya NKRI adalah membebaskan bangsa dari segala bentuk penjajahan, sekaligus membangun negara yang merdeka dan berdaulat. Melalui momentum ini, Indonesia menegaskan haknya untuk mengatur pemerintahan sendiri dan menentukan masa depan bangsa tanpa campur tangan asing.

Dalam KBBI, "Merdeka" dimaknai sebagai keadaan bebas dari penindasan, tidak terikat atau bergantung kepada pihak tertentu, serta leluasa. Sementara itu, "Kemerdekaan" adalah hal atau keadaan hidup sebagai bangsa yang merdeka.

Kemerdekaan semestinya menjadi titik balik dari kehidupan bangsa yang dahulu menderita dan tidak berdaya di tanah airnya sendiri. Jika sebelum merdeka rakyat mengalami penindasan dan eksploitasi, maka setelah kemerdekaan, kehidupan yang dibangun seharusnya membawa mereka menuju keadaan yang lebih berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

Namun, di dalam rumah besar NKRI yang kini menampung lebih dari 290 juta jiwa, banyak yang masih hidup dalam keterbatasan. Kemiskinan dan kondisi ekonomi membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Bagi sebagian dari mereka, memiliki rumah yang aman dan layak pun belum mudah diwujudkan.

Secara kodrati, tidak ada manusia yang mau hidup dalam keadaan miskin dan terbebani kebutuhan hidup yang tidak mampu dipenuhi. Namun, ketidakmampuan ekonomi kerap menjadi jerat yang sulit dilawan serta terwariskan dari generasi ke generasi.

Kondisi ini mendorong Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) menghadirkan Rumah Syukur, sebuah program pembangunan rumah gratis bagi mereka yang membutuhkan. 

Menurut Ketua Umum OPSHID, pemilihan rumah didasarkan pada makna filosofis dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Hunian tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga berkaitan dengan jiwa dan spirit penghuninya. Gagasan ini sejalan dengan pesan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”

Dalam konteks filosofis, rumah menjadi analogi bagi struktur jiwa manusia; sebagaimana fisik bangunan memerlukan fondasi yang kokoh agar dapat berdiri tegak, jiwa yang kuat pun membutuhkan pijakan hidup yang stabil. Oleh karena itu, penyediaan hunian yang layak berfungsi sebagai langkah awal dalam merekonstruksi ketenteraman dan ketahanan jiwa penerimanya. 

Penulis:

Editor: Nuraida