Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa

25 Maret 2026 19:00

Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa

KEMERDEKAAN HAKIKI DAN MARTABAT BANGSA YANG DIINJAK DENGAN MENYEBUT INLANDER

Salah satu bentuk penindasan paling menyakitkan dalam sejarah penjajahan adalah penghinaan terhadap martabat bangsa Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, rakyat Indonesia sering disebut dengan istilah ‘Inlander’, yaitu sebuah istilah yang merendahkan dan menganggap bangsa Indonesia sebagai manusia kelas rendah.

Dalam struktur sosial kolonial, pribumi ditempatkan pada posisi paling bawah, bahkan dianggap lebih rendah dari hewan. Kebijakan diskriminatif ini dilegalkan oleh pemerintah kolonial dan menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan. Masyarakat Hindia Belanda dibagi ke dalam beberapa golongan hukum dan sosial, yaitu:

1. Golongan Eropa
2. Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, India)
3. Golongan Pribumi (disebut Inlander)
 
Secara administratif, istilah inlander digunakan untuk memudahkan pengelompokan   penduduk. Namun, seiring waktu, istilah ini berkembang menjadi label sosial yang merendahkan. Orang pribumi dianggap sebagai kelompok paling rendah dalam hierarki kolonialSehingga dalam praktiknya, sebutan inlander digunakan dengan nada merendahkan. Orang-orang pribumi dipandang:
Tidak beradab
Tidak cerdas
Tidak layak memegang kekuasaan
Berada di bawah derajat orang Eropa
 
Diskriminasi ini tercermin dalam berbagai kebijakan:
Pembatasan akses pendidikan
Larangan menduduki jabatan tinggi
Pemisahan tempat tinggal
Perbedaan sistem hukum
 
Dengan demikian, istilah inlander bukan sekadar label administratif, melainkan alat untuk mempertahankan dominasi kolonialPemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem hukum rasial yang membedakan hak dan kewajiban berdasarkan golongan. Orang Eropa mendapatkan hak istimewa, sementara pribumi (inlander) ditempatkan pada posisi paling rendah.
 
Orang pribumi tidak boleh menggunakan fasilitas tertentu yang diperuntukkan bagi orang Eropa
Upah tenaga kerja pribumi jauh lebih rendah
Pribumi sering diperlakukan secara sewenang-wenang oleh aparat kolonial
 
Struktur ini menciptakan sistem sosial yang tidak adil dan memperkuat stigma negatif terhadap pribumiLebih jauh lagi, pada akhir abad ke 19, terjadi praktik tidak manusiawi berupa pameran manusia di Eropa, di mana orang-orang dari Asia, termasuk Indonesia dipertontonkan layaknya binatang. Peristiwa ini menjadi simbol betapa rendahnya pandangan imperialis terhadap bangsa terjajah.

Seiring munculnya kesadaran jati diri bangsa; bahwa Indonesia adalah bangsa yang bermartabat pada awal abad ke-20, istilah inlander mulai ditolak oleh para tokoh pergerakan nasional. Tokoh-tokoh seperti HOS Tjokroaminoto, RMP Sosrokartono, dan Soekarno menentang keras penggunaan istilah tersebut karena dianggap merendahkan martabat bangsa.

Dalam pidato dan tulisan mereka, istilahinlanderdiganti dengan istilah yang lebih bermartabat seperti:

Bangsa Indonesia
Rakyat Indonesia
Pribumi yang merdeka
 
Penolakan terhadap istilah ini menjadi bagian dari perjuangan untuk membangun identitas nasional dan harga diri bangsa.

Tokoh-tokoh pergerakan nasional menegaskan pentingnya kemerdekaan sebagai sarana untuk mengangkat martabat bangsa. Menurutnya, tanpa kemerdekaan, bangsa Indonesia akan terus dianggap sebagai manusia setengah hewan.

Pemikiran ini menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan dan membangun negara yang berdaulat, adil, dan bermartabat.

Kemerdekaan Indonesia tidak hanya merupakan hasil perjuangan manusia, tetapi juga   karunia dari Alloh SWT. Dalam perspektif spiritual, kemerdekaan adalah anugerah Ilahi yang harus disyukuri dan dijaga.

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesi adalahAtas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dimensi spiritual memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Setelah Indonesia merdeka, istilah inlander secara resmi tidak lagi digunakanNamun demikian, jejak historis istilah ini tetap penting untuk dipelajari sebagai bagian dari kesadaran sejarah bangsa, agar tidak terulang kembali praktik diskriminasi dan dehumanisasi.

Penulis: Kholidah

Editor: Nuraida