ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hymne Syukur: Jati Diri Indonesia Sebagai Bangsa Beriman
23 Januari 2026 15:00
Syekh Mukhtar, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, menggambarkan ketimpangan kekuatan tersebut,
"Apa imbangannya, kekuatan Sekutu itu luar biasa. Belanda kalah dengan Jepang, jelas Jepang hebat. Jepang kalah dengan Sekutu, jelas Sekutu paling raksasa dunia. Ndak imbang dengan Indonesia ini, Indonesia dalam keadaan compang-camping, senjata yang paling banyak bambu runcing, gimana mau melawan Sekutu. Tapi kenyataan fakta bicara, gagal.”
Beliau melanjutkan, "Terkubur penjajah, itu kekuatan Ilahiyah, yaitu perlunya disyukuri."
TRILAWANASKA: Tiga Lagu Wajib Nasional Karomat
Dalam pandangan Syekh Mukhtar, wawasan kebangsaan Indonesia juga tercermin melalui posisi lagu-lagu wajib nasional,
"Di Indonesia ini banyak lagu-lagu wajib nasional. Di antaranya yang paling karomat ada tiga lagu. Satu: lagu Indonesia Raya, wajib. Dua: lagu Syukur, mensyukuri kemerdekaan bangsa dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga: lagu Hari Kemerdekaan. Tiga lagu itu lagu paling keramat diantara lagu-lagu wajib nasional. Jadi tiga lagu tak terpisahkan, tiga lagu tak terpisahkan. Maka tiga lagu itu saya singkat TRILAWANASKA."
Tiga lagu yang dimaksud adalah, Indonesia Raya, Syukur, dan Hari Kemerdekaan. Ketiganya mewakili tahapan perjalanan bangsa. Indonesia Raya berfungsi membangkitkan semangat perjuangan, lagu Syukur menjadi ungkapan terima kasih atas kemerdekaan dan berdirinya negara, sedangkan Hari Merdeka mengingatkan generasi berikutnya pada momentum kemerdekaan bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI.
Syekh Mukhtar juga menjelaskan bahwa sumber aspirasi ketiga lagu tersebut berbeda. Indonesia Raya bersandar pada jati diri bangsa, Syukur teraspirasi pada rumusan Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga, sedangkan Hari Kemerdekaan berakar pada teks Proklamasi. Melalui kerangka itu, lagu Syukur diposisikan sebagai ekspresi rasa terima kasih atas dua nikmat agung, yakni Kemerdekaan Bangsa dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Husein Mutahar
Penulis hymne “Syukur”, Husein Mutahar, merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia. Selain dikenal sebagai komponis religius, ia juga terlibat langsung dalam berbagai tugas kenegaraan. Mutahar pernah menjadi ajudan Presiden Soekarno, menjabat Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, serta berperan dalam perintisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Pada masa perpindahan ibu kota ke Yogyakarta, ia termasuk tokoh yang dipercaya untuk menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih. Atas pengabdiannya, Mutahar menerima penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputera.
Dalam perkembangan Indonesia setelah kemerdekaan, lagu Syukur tetap menempati posisi penting sebagai bagian dari memori kolektif bangsa. Karya tersebut tidak hanya merekam suasana batin masyarakat pada masa awal kemerdekaan, tetapi juga mencerminkan cara bangsa Indonesia memaknai hubungan antara nilai keagamaan dan kehidupan bernegara.
Melalui bait-bait liriknya, lagu Syukur menegaskan bahwa pengalaman historis kemerdekaan dipahami sebagai peristiwa yang memiliki dimensi spiritual sekaligus kebangsaan, yang menghubungkan kesadaran religius dengan tanggung jawab sosial dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?