Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Indonesia Raya: Lagu Keramat yang Mengguncang Penjajah

28 Oktober 2025 17:20

Indonesia Raya: Lagu Keramat yang Mengguncang Penjajah

Lahir pada momentum Kongres Pemoeda II pada 28 Oktober 1928, Lagu Indonesia Raya tidak sekadar hadir sebagai karya musik, namun sebagai seruan kebangsaan yang membangunkan jiwa bangsa dari tidur panjangnya. Lagu yang digubah Wage Soepratman ini menjadi napas baru bagi pergerakan nasional dan dalam tiap baitnya tersimpan harapan dan doa.

Tak lama setelah kongres, lagu ini dengan cepat tersebar melalui majalah, koran-koran pergerakan, serta siaran radio. Sin Po menjadi media pertama yang mempublikasikan teks lengkap Indonesia Raya. Penyebaran melalui media membuat lagu ini segera diterima luas oleh masyarakat. Tidak lama kemudian, Indonesia Raya menjadi lagu resmi yang dinyanyikan dalam pembukaan dan penutupan berbagai pertemuan organisasi pergerakan nasional.

MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN DENGAN BERDIRI TEGAK 

Setiap kali dinyanyikan, masyarakat memberikan penghormatan dengan berdiri tegak. Dalam beberapa tradisi Nusantara, berdiri dikaitkan dengan konsep sumpah dan pengokohan kesungguhan. Penjelasan mengenai hubungan antara sumpah dan sikap tubuh dapat ditemukan dalam beberapa literatur Nusantara, termasuk Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, dan Sumpah Jabatan.

Namun bagi banyak orang Eropa, terutama para pejabat penjajah Belanda, penghormatan semacam ini dianggap sebagai ancaman politik. Berdiri untuk lagu yang jelas-jelas memuat kata merdeka membawa pesan bahwa bangsa ini tengah bangkit dari tidur panjangnya. Catatan-catatan kolonial pada akhir dekade 1920-an menyebutkan keresahan pejabat Belanda bahwa lagu tersebut menghasut rasa nasionalisme berbahaya. Reaksi ini menunjukkan bahwa makna lagu tidak lagi dipahami sebatas musikal, tetapi sebagai deklarasi politik.

Popularitas Indonesia Raya membuat pemerintah kolonial panik. Tahun 1930-an muncul berbagai peraturan yang melarang pemutaran, pelantunan, bahkan larangan untuk berdiri ketika lagu itu dimainkan. Dalam beberapa arsip keputusan pemerintah kolonial, disebutkan bahwa setiap tindakan yang menunjukkan penghormatan terhadap lagu yang disebut Indonesia Raya harus dihentikan, karena dapat menimbulkan semangat anti-pemerintah.

Lagu itu dianggap seperti api yang tak bisa dipadamkan, sederhana namun mampu menyulut semangat perlawanan. Pemerintah Belanda menyadari bahwa lagu dapat menjadi alat politik yang paling efektif, karena ia menyentuh emosi rakyat, membangun kesadaran kolektif, dan menyatukan visi perjuangan.

Salah satu peristiwa terkenal mengenai ketegangan tersebut terjadi dalam ulang tahun Indonesische Studieclub di Surabaya, Juli 1929. Ketika Indonesia Raya dinyanyikan, para pemuda dan tokoh pergerakan spontan berdiri untuk memberikan hormat. Sebaliknya, para pejabat kolonial tetap duduk, sengaja menunjukkan sikap meremehkan. Soetomo, tokoh pendiri Studieclub, menegur mereka dengan keras dan menyebut sikap itu seperti “kerbau yang tidak tahu hormat”.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida